Alasan Ma’ruf Tak Banyak Bicara di Debat: Presiden Harus Dominan

gebraknews, Jakarta – Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Ma’ruf Amin menyampaikan alasannya tidak banyak bicara saat debat perdana semalam. Ma’ruf menyebut debat memang harus didominasi Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden (capres).

“Debat itu kan pertama lebih ke presiden. Presiden harus lebih dominan, saya hanya menambah saja. Makanya tadi malam pun saya tidak banyak bicara, (saya bicara) hal-hal yang perlu saya tambahkan saja,” ujar Ma’ruf di kediamannya di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/1).

Muat Lebih

Menurut Ma’ruf, apa yang disampaikan Jokowi dalam debat sudah jelas. Bila dia ikut berbicara, menurutnya malah akan terlihat berkejaran untuk berbicara.

“Kalau sudah dijelaskan oleh presiden ya saya tinggal menyetujui, mendukung, jangan seperti orang balapan ngomong, kaya saur manuk,” kata Ma’ruf.

Selain itu, Ma’ruf menyebut Prabowo Subianto-Sandiaga Uno banyak menyoal kinerja pemerintahan saat ini. Ma’ruf merasa belum terjun ke pemerintahan dan tidak mengetahui sebab permasalahannya pun lebih memilih untuk diam.

“Kedua kan banyak yang dimasalahkan itu kan kinerja Pak Jokowi yang dapat kritik, banyak dari Pak Prabowo, tentu yang lebih paham dan lebih menguasai yang menjawab adalah Pak Jokowi, karena itu menyangkut kinerjanya, kalau saya yang menjawab kan jadi tidak tepat gituloh, karena kan saya tidak mengalami,” kata Ma’ruf.

Dalam debat semalam, Ma’ruf cukup banyak berbicara saat isu terorisme. Menurutnya, urusan mengatasi terorisme menjadi salah satu bagian yang difokuskan padanya.

“Jadi kalau masa lalu, yang kritik soal ini soal ini yang jawab harus Pak Jokowi, tapi dalam hal tertentu saja saya jawab. Dan memang porsi yang diberikan itu tentang terorisme, walau pun saya ngomong soal lain, ada soal difabel, disabilitas juga soal reformasi hukum dengan penataan regulasi. Tapi memang porsi saya bagaimana mengatasi terorisme kedepan, saya kira itu,” tuturnya.

‘Keheningan’ Ma’ruf Amin Perlu Evaluasi

Ma’ruf jadi pergunjingan warganet lantaran tidak banyak bicara saat debat berlangsung. Pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menilai lazim jika minimnya Ma’ruf bicara menjadi perbincangan di khalayak. Hal itu karena masyarakat tidak melihat substansi debat, melainkan porsi bicara masing-masing capres-cawapres.

“Orang umumnya tidak melihat substansi perdebatan tapi melihat peran dan komposisi berbaginya,” kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/1).

Ma’ruf, kata Adi, pada dasarnya memahami dengan baik aspek kenegaraan dan pemerintahan khususnya di bidang hukum. Dia punya pengalaman panjang di bidang politik karena pernah menjadi anggota legislatif selama era Orde Baru,

Adi menilai Ma’ruf tidak bicara banyak karena menjalankan strategi yang diterapkan Tim Kampanye Nasional (TKN). TKN menurutnya menerapkan strategi tersebut lantaran cemas Ma’ruf tidak bisa menyiasati waktu debat yang tergolong sangat terbatas.

“Tapi kalaupun memberi porsi yang lebih banyak kepada Kiai Ma’ruf juga khawatir salah kutip, khawatir penegasannya agak sedikit tidak terukur, kira-kira begitu,” lanjutnya.

Adi mengamini performa Ma’ruf cenderung memble dalam debat Pilpres 2019 semalam, namun juga tidak sampai merugikan Jokowi. Hanya saja, kata Adi, tidak memberikan keuntungan.

Lepas dari itu, strategi meminta Ma’ruf tidak banyak bicara kelak akan dievaluasi oleh TKN Jokowi menyesuaikan hasil survei pascadebat capres.

“Kalau publik lebih suka melihat Kiai Ma’ruf tidak banyak bicara, ya mungkin akan dipertahankan,” kata Adi.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research Pangi Syarwi Chaniago mengungkapkan, peran pasif Ma’ruf sangat merugikan Jokowi.

“Karena akan ada kekhawatiran bahwa nanti Jokowi tidak akan membagi kerja-kerja pemerintahan dengan wakil presidennya,” tutur Pangi.

Pangi menilai peran Ma’ruf dalam debat seharusnya bisa lebih dioptimalkan untuk mendulang suara lebih banyak, terutama dari para pemilih yang tergolong dalam kategori swing voters ataupun undecided voters.

Survei terbaru dari Charta Politica mencatat para pemilih loyal dari Jokowi maupun Prabowo diprediksi tidak bakal mengalami perubahan besar. Masing-masing paslon punya peluang menambah dukungan suara dari 14,6 persen swing voters dan undecided voters sebesar 14,1 persen.

Menurut Pangi, peran Ma’ruf sebagai pendamping Jokowi bertolak belakang dengan Sandiaga Uno yang berperan aktif melengkapi performa Prabowo Subianto.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi, Hasto Kristiyanto, mengamini bahwa Ma’ruf tak banyak berbicara karena memang sudah sesuai dengan pembagian tugasnya.

“Pembagian tugas seperti itu, karena memang kiai Ma’ruf betul-betul membantu Pak Jokowi, melengkapi Pak Jokowi,” kata Hasto usai nonton bareng debat di Rumah Aspirasi, Menteng, Jakarta, Kamis (17/1).

Sementara Dewan Penasihat TKN, Romahurmuziy, berencana mengumpulkan tim untuk mengevaluasi manajemen waktu bicara Ma’ruf pada putaran debat selanjutnya.

“Yang pasti time menagement karena ini debat pertama bagi Kiai Ma’ruf juga. Itu akan menjadi sangat concern kita,” kata Romi. (gn/cnn indonesia)

Pos terkait