GebrakNews.co.id, Bandung – Hanya bermodal Rp 150.000, sisa dari uang jajan kuliah, Eva Putri Mardiani (26), memasarkan sneakers wedges buatannya hingga Singapura.

Kisahnya bermula dari kecintaannya terhadap sepatu. Hingga ia memiliki impian menjadi pengusaha sepatu. Namun, selulus SMA, ia belum bisa mewujudkan impiannya dan memutuskan bekerja.

Dua tahun berlalu, ia kemudian kuliah di Jurusan Administrasi Keuangan dan Komputerisasi Akuntansi di salah satu kampus di Bandung. Di sinilah, kecintaannya terhadap sepatu semakin besar.

“Saya suka sneakers wedges. Tapi dulu, tahun 2011-an mencari yang lokal susah. Akhirnya suka nyari sepatu luar,” ujar perempuan kelahiran Bandung, 7 Januari 1992 ini menjelaskan.

Baca juga: Jelang Pilpres, Wapres Kalla Minta Pengusaha Tak Khawatir

Ia kemudian berpikir, kenapa tidak dibuat saja di Bandung. Ia mengumpulkan sisa uang jajan kuliah sebesar Rp 150.000 dan mencari tukang sepatu.

“Tadinya untuk kebutuhan sendiri karena saya suka sepatu. Kalau 5 hari kuliah, 5 hari ganti sepatu. Kalau baju tidak usah banyak, yang penting sepatu,” ungkapnya.

Ternyata, desain sepatu yang ia buat banyak yang suka, pesanan pun mulai datang dari teman kuliahnya. Namun, karena tak ada modal, ia meminta uang muka 50 persen dari pemesan, baru dibuatkan.

Eva kembali berpikir untuk mulai mengembangkan bisnisnya. Ia memasarkan produknya melalui Instagram, namun terkendala tukang pembuat sepatu.

“Setiap mengeluarkan desain, saya harus coba dulu sepatunya. Nyaman enggak di kaki, kalau enggak nyaman, saya enggak akan lepas sepatunya. Jadinya beberapa kali juga cari tukang sepatu yang cocok,” ucapnya.

Hingga tahun 2014, ia memiliki bengkel sepatu sendiri. Ia pun secara rutin mengeluarkan model yang sengaja dibuat limited edition untuk dijual langsung ataupun dengan cara purchase order (PO).

“Satu desain hanya 200 pasang sepatu. Sampai sekarang ada ratusan sepatu, tapi yang best seller 30-40 model,” ungkapnya.

Baca juga: Erick Thohir Pilih Tetap Jadi Pengusaha daripada Masuk Parpol

Selain desain yang dikeluarkan olehnya, ia pun menerima custom. Sebab, ia sadar ada konsumen seperti dirinya yang ingin beda dari yang lain.

“Keunikan dari sepatuku harus empuk dan nyaman di kaki. Wedges tapi enggak bikin pegal meski dipakai seharian,” ucapnya.

Memasuki tahun 2017, pasarnya meluas. Dari awalnya hanya anak kuliahan, kini menyasar perempuan berhijab.

“Sekarang lagi musim pakaian syari. Sneakers wedges ini akan sangat membantu. Tetap nyaman digunakan seharian, bahkan tidak khawatir saat menggendong anak,” tuturnya.

Saat ini, 95 persen pemasaran produk Eva melalui Instagram. Ia sedang merancang untuk masuk e-commerce.

“Harganya dari Rp 250.000 sampai Rp 400.000-an. Peminat paling banyak Jabodetabek, Makassar, Jambi, dan Riau,” kata UMKM binaan BJB ini.

Selain dalam negeri, produknya banyak diminati warga Malaysia dan Singapura. Bahkan mereka kerap memesan lagi alias repeat order.

“Saya juga selalu mencoba berinteraksi dengan pembeli. Saya bertanya, bagaimana sepatunya, apa yang kurang. Ini dilakukan agar produk saya semakin baik,” tuturnya.

Hingga kini sepatunya dibuat secara handmade oleh pengrajin sepatu. Setiap bulan ia hanya bisa memproduksi 300-400 pasang sepatu meski permintaan lebih dari itu.

“Saya pernah coba memproduksi lebih dari 400 pasang, tapi hasilnya jelek. Ada keinginan untuk memperluas bengkel,” pungkasnya.

Sumber: Kompas.com