Bonus Porprov Jatim 2025 Dipangkas, Pelatih dan Atlet Kota Pasuruan Kecewa

Gebraknews.co.id, Pasuruan  Sejumlah pelatih dan atlet Kota Pasuruan yang berlaga pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 mengaku kecewa atas pemangkasan bonus yang dinilai drastis. Pemerintah Kota Pasuruan disebut menurunkan nominal reward dengan alasan efisiensi anggaran.

Salah satu pelatih cabang renang, Riyanto atau Riyan, mengaku tidak puas karena besaran bonus yang diterima tidak sesuai dengan informasi awal. Ia menilai pemerintah daerah seharusnya menyampaikan kondisi keuangan secara terbuka sejak awal.

Bacaan Lainnya

“Kalau memang kondisi keuangan daerah tidak memungkinkan, seharusnya disampaikan dari awal. Transparan, bukan setelah kami berjuang,” ujar Riyan saat menghadiri penyerahan bonus secara simbolis oleh Wali Kota Pasuruan di Gedung Gradhika, Rabu (25/2/2026).

Menurut Riyan, persoalan tersebut bukan semata soal nominal uang, melainkan bentuk penghargaan atas perjuangan atlet. Ia menyebut, di balik setiap medali terdapat pengorbanan besar dari atlet, pelatih, ofisial, hingga orang tua yang mendampingi selama persiapan dan pertandingan.

Ia juga membandingkan dengan daerah lain yang tetap memberikan bonus lebih tinggi. Di Kota Pasuruan, bonus peraih emas disebut turun dari Rp30 juta menjadi Rp10 juta. Peraih perak dari Rp20 juta menjadi Rp7,5 juta, sedangkan perunggu dari Rp10 juta menjadi Rp5 juta.

“Ini soal penghargaan terhadap prestasi. Atlet sudah berjuang membawa nama daerah,” tegasnya.

Hal senada disampaikan pelatih senior, Franky. Ia memahami adanya kebijakan efisiensi di berbagai daerah, namun menilai penurunan di Kota Pasuruan terlalu besar.

“Saya tahu ada efisiensi, kami paham. Tapi jangan ekstrem. Daerah lain juga turun, tapi tidak separah ini,” ujarnya.

Franky mengingatkan, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi motivasi atlet. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan atlet memilih pindah ke daerah lain jika merasa kurang mendapat apresiasi.

“Jangan salahkan jika ke depan ada atlet yang enggan berjuang atau memilih pindah. Mereka berkorban waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi demi nama kota,” katanya.

Kekecewaan juga datang dari orang tua atlet. Anis, ibu dari salah satu peraih medali emas, mengaku pengorbanan keluarga tidak sebanding dengan bonus yang diterima.

“Anak saya latihan sejak pukul 04.00 setiap hari, bahkan saat libur. Biaya makan dan transportasi kami tanggung sendiri. Bonusnya jauh dari harapan,” ujarnya.

Sementara itu, atlet renang Fitrah dan Ciko mengaku kecewa karena bonus yang diterima tidak sesuai ekspektasi. Mereka berharap ke depan pemerintah daerah lebih memperhatikan kesejahteraan atlet.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pemuda dan Olahraga maupun Pemerintah Kota Pasuruan belum memberikan keterangan resmi terkait kebijakan penyesuaian bonus tersebut.

(Ichwan)

Editor: R. Piliang

Pos terkait