Cerpen Ifan Tj: Hamil

Merenung, menangis, dan mengurung diri di kamar. Hanya itu yang dilakukan Santi semenjak dua hari yang lalu.

Santi tidak mau sekolah. Gadis itu menutup diri untuk bertemu siapapun juga.

Bacaan Lainnya

Ibunya sudah pula kewalahan untuk membujuk Santi membuka pintu kamar, apalagi ayahnya. Mereka berdua tampak nyaris menyerah.
Sudah dua hari juga Santi tidak makan apa-apa. Hanya air minum yang diletakan di depan pintu kamar yang diambilnya. Makanan tiada disentuhnya sedikitpun.

Tidak ada yang tau entah apa gerangan yang membuat gadis itu bermuram durja. Padahal sebelumnya semua baik-baik saja.

Darto, Ayah Santi semenjak kemarin telah mencoba menghubungi semua kawan dekat Santi untuk mencari tau dan mengurai simpul masalah yang membuat anak semata wayangnya itu sedemikian terumuknya.

Dari semua kawan Santi yang dihubungi Darto, tiada satupun dari mereka yang tau persis kenapa Santi bersedih hati dan menutup diri layaknya orang yang tengah kena masalah berat itu. Padahal terakir kali dia bersama Rita sahabat karibnya sore itu. Rita pun mengaku semua baik-baik saja saat mereka berpisah dan waktu itupun Rita mengantar sampai di depan rumah Santi.
“Kami terakir kemaren hanya jalan-jalan dan setelah itu pulang. Semua baik-baik saja,” kata Rita saat dihubungi Darto melalui sambungan telepon.

“Apakah nak Rita tau Santi punya pacar?”

“Santi selalu dengan kami, kawan-kawannya. Setahu saya dia tak pernah dekat dengan lelaki manapun,” jawab Rita.

Jawaban yang sama selalu didapatkan Darto saat bertanya kepada kawan-kawan Santi yang lain.
Tak hanya melalui telepon. Darto semenjak mengetahui anak gadisnya yang baru berumur 15 tahun itu sesengukan di kamar dan menutup diri, juga menjumpai teman-teman Santi yang diketahuinya ke rumah mereka masing-masing.
Darto juga menghubungi SMP tempat Santi bersekolah, namun tidak ada jawaban yang mengarah kepada sebab musabab permasalahan yang menimpa Santi diperoleh oleh Darto.

Maka, malam itu didiskusikanya bersama istrinya Fatimah mengenai solusi untuk memecahkan persolan yang menimpa anak mereka tersebut.
Fatimah, ibu Santi saat mengetahui Santi seperti itu, sedari pagi juga tak kuasa menahan air matanya. Dia tidak tau apa yang mesti dilakukan, berbagai fikiran buruk juga menggoda benaknya melihat kondisi gadis itu.

“Dik, Mas khawatir ada sesuatu yang menimpa anak kita. Jangan sampai terjadi hal yang tidak kita inginkan. Begini saja, malam ini Adik tetap mencoba merayu Santi untuk membuka pintu kamar. Jika tetap tidak dibuka, maka kita dobrak saja,” kata Darto kepada Fatimah.

Fatimah yang sedari tadi menangis, menyeka air mata nya.
“Baik Mas, saya akan coba ngomong sama dia. Tak terhitung beberapa kali saya mencoba mengetuk pintu dan membujuk dia, namun dia masih saja menangis tak menghiraukan.”

Fatimah lantas mendekati kamar Santi.
Sesampainya di depan pintu kamar, dia mencoba membujuk buah hatinya itu.

“Nak, bukalah pintu kamar, bicaralah dengan Ibu, jangan seperti ini. Jika ada masalah coba bicarakan dengan Ibu. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi, Ibu akan tetap bersamamu. Bicaralah, biar apapun masalahnya kita selesaikan bersama. Biasanya Santi kan selalu cerita dengan Ibu.”
Fatimah mencoba membujuk.

Beberapa saat suasana senyap.
Didalam kamar Santi masih murung, seakan seperti orang yang sudah kehilangan harapan. Mendengar kata Ibunya itu, Santi akhirnya menyerah juga dan kemudian membukakan pintu.

Suara daun pintu berderik. Fatimah harap-harap cemas, namun segala fikiran buruk dicoba dihapuskannya. Naluri keibuannya, membuatnya merasa harus melindungi putrinya bagaimanapun yang terjadi.
Didekatinya Santi lalu dipeluknya. Tangis Santi pecah di pangkuan Fatimah. Sembari sesengukan dia berkata dengan terbata-bata.
“Ibu.. hiks, hiks, hiks… Apa yang harus Santi lakukan. Santi lebih baik mati saja, sudah hancur masa depan Santi Ibu.”

“Jangan berkata begitu nak, coba ceritakan pada Ibu. Apa sebenarnya yang terjadi. Ibu dan Ayah sayang sama Santi, jangan berkata begitu. Coba ceritakan pada ibu apa yang terjadi.”
“Santi Hamil Ibu… Santi Hamil.. hiks,hiks,hiks…” Santi menangis sejadi-jadinya.

Fatimah mencoba mengumpulkan segenap kekuatannya dan berusaha tetap tenang.
“Santi tau hamil darimana?”
“Coba ceritakan pada Ibu nak, apa yang terjadi…”

Setelah sedikit tenang, Santi kemudian menceritakan pada Ibunya.

Begini ceritanya:
Kurang lebih semenjak tiga minggu yang lalu, setiap sore, Santi bersama Rita sahabatnya rutin berenang di kolam renang umum.
Namun sudah seminggu ini Santi tidak datang bulan, padahal biasanya tidak pernah terlambat seperti ini. Santi was-was.
Hal yang membuatnya meyakini dirinya hamil adalah saat membaca berita tentang statment pejabat publik yang mengatakan bahwa wanita bisa hamil jika bercampur mandi dengan lelaki di kolam renang. Semenjak melihat berita itu Santi tak mau lagi menyentuh hp nya. Santi yakin benar bahwa dia telah hamil, terlebih dia telat datang bulan, tidak seperti bulan-bulan yang lalu.

Saat ditanya Ibunya, apakah Santi pernah berhubungan dengan lelaki, gadis itu menjawab dengan polos.

“Bahkan pacaran pun Santi belum pernah Bu,” jawab Santi dengan muka murung.

Darto yang sedari tadi menguping di luar tak kuasa menahan tawanya. Fatimah pun juga demikian, tawanya menyemburat mendengar jawaban anak gadisnya itu.
Santi hanya diam terpaku, melihat reaksi kedua orangtuanya.

Esoknya, untuk memastikan, mereka membawa anaknya ke sebuah klinik ibu dan anak.
Dan benar saja, hasilnya tidak terjadi apa-apa.
Dokter yang memeriksa juga ikut tertawa mendengar cerita Darto dan Fatimah tentang kekonyolan anak gadisnya itu.

Ifan Tj
Batam, 23 Februari 2020.

Pos terkait