Cerpen: Safari Ramadhan

Ada dua sosok yang tengah bersilang pendapat. Sosok berjubah putih dan berjubah hitam. Sosok berjubah putih bersikeras mengatakan tidak, sedangkan yang berjubah hitam bersikukuh mengatakan iya. Keduanya terus bersitegang cukup lama dengan melontarkan dalih masing-masing untuk menguatkan pendapat.

Karena alasan-alasannya cukup kuat dan meyakinkan, akhirnya yang berjubah hitam berada “di atas angin.” Jubah putih menyerah hingga kemudian berlalu pergi.

Bacaan Lainnya

Perdebatan keduanya itu, terjadi di dalam pikiranku apabila digambarkan seperti adegan dalam sinetron. Yang berjubah putih sebagai malaikat, yang berjubah hitam sebagai iblis. Hal itu berlangsung saat aku tengah dalam perjalanan menuju kantor dari suatu tempat.

Menjelang siang, panas cukup terik, kulirik jam tangan menunjukan pukul 11.16.  Setelah dapat keputusan yang bulat, kini ada satu hal lagi yang mesti aku pikirkan. Oya, sebetulnya Ini adalah soal kebimbangan membatalkan puasa, rasanya tak kuat aku bertahan hingga magrib. Sebab,  selain tak makan sahur, maghku sepertinya kambuh. Terasa agak sedikit pusing . Dan rupanya ini jurus andalan yang dikeluarkan oleh si jubah hitam tadi. Iblis menang kali ini.

Yang mesti kupikirkan itu, yakni mencari tempat yang pas untuk melepaskan rasa lapar dan dahaga. Kalau makan di rumah, aku malu sama istri dan anak-anak.  Di kantor demikian juga, sebab sebagai pimpinan tentu aku harus  memberikan contoh yang baik. Sementara, jika di tempat biasa takutnya tampak oleh orang yang kukenal.

Aku reka-reka di mana tempat yang kira-kira agak lengang. Terlintas dalam pikiranku satu restoran milik hotel bintang empat yang kutahu makanan di sana cukup enak, dan pula aku yakin, jam segini tempat itu cukup sepi. Yang paling penting adalah kecil kemungkinan orang yang kukenali ataupun mengenalku ada di tempat itu. Posisinya juga tak terlalu jauh dari jalan yang kulewati sekarang ini.

Segera kuarahkan mobil menuju restoran itu. Tidak lama berselang aku sampai di lokasi. Di restoran, kulayangkan pandangan sekeliling, aku lega ternyata memang sepi sekali. Hanya dua orang yang tamu yang duduk di situ,  satu orang berwajah oriental, tengah menyantap makanannya. Dia acuh tak acuh tatkala aku masuk ke lokasi.    Sementara berjarak beberapa meja ada seorang lagi berpakaian necis, berkulit cerah. Yang satu ini berbadan gempal. Asap rokoknya tampak mengepul. Mata kami sempat bersirobok sesaat, namun dengan lekas dia memalingkan mukanya.

Setelah kuingat-ingat muka orang kedua ini cukup familiar, tetapi setelah kupikir-pikir lagi kupastikan aku tidak mengenalnya.

Kupesan salah satu menu andalan restoran itu dan aku bersantap dengan lahap.  Meski sesekali batinku beristighfar karna melanggar kewajibanku sebagai seorang muslim.
“Nanti aku tunaikan fidyah,” timpalku membatin.

Ini kali kedua puasaku batal setelah terhitung 12 hari lamanya bulan Ramadhan.

Si badan gempal sesekali melirik ke arahku. Meski posisi duduk kami berjauhan aku dapat menangkap sekilas. Oleh karena tingkahnya itu, aku berasumsi dia sama sepertiku, yakni sedang “makan sembunyi-sembunyi“.

Setelah beberapa saat, kulihat dia beranjak dari tempat duduknya, menuju kasiran dan berlalu pergi.

Ketika kulirik jam tangan, ternyata sudah hampir pukul setengah satu.

***

Aku kemudian masuk kantor sebagai orang yang tengah berpuasa. Barangkali demikian yang dikira  bawahanku.

Kukerjakan bengkalai yang mesti kukerjakan, lantas tenggelam dalam rutinitas dengan bertumpuk-tumpuk berkas yang harus kuanalisa dan tandatangani.

Tak terasa waktu berlalu cepat, saat aku melihat handphone, aku baru menyadari hari ini rupanya di masjid dekat rumah ada kegiatan. Sebagai perangkat RT dan juga tokoh masyarakat setempat, aku tentu tak boleh alpa.

Hari ini merupakan jadwal kunjungan Gubernur dan rombongan, dalam rangka Safari Ramadhan. Gubernur dan rombongannya dijadwalkan shalat magrib dan berbuka puasa bersama di masjid kompleks perumahan kami.

**

Setelah mandi, berganti pakaian dan sholat, aku berbincang bincang sebentar dengan istriku. Dua anakku sedang ke luar membeli takjil, sedang adiknya yang bungsu tengah tertidur lelap. Jarak masjid hanya sepelemparan batu dari rumah.  Kata istriku, acara sudah dimulai dari tadi, dan pak Gubernur sudah selesai memberi sambutan.

Masih kedengaran orang berpidato, barangkali ustad atau dari rombongan Gubernur.

Paparannya sangat menarik. Meski ada penggalan yang terlewatkan, tapi bagian ini terdengar cukup jelas  dari pengeras suara masjid.

“Dari bulan puasa ini kita belajar betapa erat kaitannya pikiran dengan bagian tubuh yang lain. Dengan niat kuat kita saat sahur yang tertanam dalam pikiran kita, segala bagian tubuh mampu menahan tanpa asupan makanan dan kita sanggup pula beraktifitas di siang hari.  Berangkat dari hal tersebut, di luar konteks puasa, sebenarnya tak dapat dipungkiri, melalui pikiran kita dapat memaksimalkan kondisi fisik kita yang ada saat ini dengan melakukan hal-hal hebat dalam kehidupan sehari-hari. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan benar.”

Pembicara itu kemudian mengutip ayat Al-Quran  tentang bulan puasa.
” Kembali kepada puasa tadi. Saya ingatkan kepada bapak-bapak yang langganan ke warteg di siang hari ya. Saudara tentu sering mendengar surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya, wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”   Maknanya, puasa ini wajib hukumnya bukan main-main. Jadi jangan lagi budi ya. Alias buka diam-diam.”
Terdengar tawa warga saat bapak ini jeda bicara. Dia menekankan betapa pentingnya melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Takut acara keburu selesai, kemudian kulangkahkan kaki menuju masjid. Sesampainya di dalam masjid, warga mempersilahkanku duduk di depan, namun aku menolak halus dan memilih duduk di barisan belakang saja. Sambil berjalan, aku melihat sekilas kepada pembicara yang terdengar luar biasa itu. Raut muka dan postur badannya yang bongsor mengingatkanku kepada seseorang. Aku mencoba mengira-ngira.

“Siapa bapak itu?”  tanyaku kepada jama’ah di sampingku.

“Infonya dia Sekda yang baru. Hebat bapak ini. Luarbiasa ceramahnya ,” jawabnya.

Setelah beberapa saat berceramah dan membahas pentingnya puasa, bapak Sekda tak sengaja melihat ke arahku. Dia sempat terdiam sesa’at, lalu melemparkan pandangannya ke arah lain, lantas melanjutkan ceramahnya.

“Namun disamping puasa ini diwajibkan, agama kita sebenarnya memberi kelonggaran untuk kondisi-kondisi tertentu. Sehingga ada yang boleh tidak berpuasa dengan alasan-alasan tertentu itu, dan wajib membayar fidyah setelahnya.”  Belum sempat merinci kondisi-kondisi apa yang dibolehkan tidak berpuasa dan menerangkan lebih jauh apa saja cara mengganti puasa, dia lalu mengucap salam menutup ceramah yang diiringi tepuk tangan jamaah.

Jika melihat raut muka dan postur badan bapak Sekda ini, tiada lain
pikiranku tertuju kepada restoran tadi.

Aku kemudian mengulum senyumku. Hampir saja aku tertawa  jika tak lekas menahan diri.

Ifan Tanjung

Batam, 24 April 2021

Keterangan: Cerita ini hanya fiksi. Bila ada kesamaan nama tokoh, cerita dan tempat, bukanlah kesengajaan penulis.

Pos terkait