Didampingi Gubernur Ansar, Menteri Wihaji Takjub Warisan Intelektual Melayu di Pulau Penyengat

Mendukbangga, H. Wihaji didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad saat berkunjung ke Pulau Penyengat. (Foto: Ky)

Geraknews.co.id, Tanjungpinang – Dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Kepulauan Riau, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) H. Wihaji bersama istri menyempatkan diri menapaki jejak sejarah di Pulau Penyengat, Kamis (23/10). Kunjungan bernuansa ziarah budaya itu menjadi momen penuh makna tentang akar peradaban Melayu yang berpengaruh besar bagi bangsa Indonesia.

Didampingi Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, rombongan memulai perjalanan dengan menziarahi makam Raja Hamidah (Engku Puteri), sosok bangsawan perempuan yang dikenal karena keteguhannya menjaga simbol kerajaan dan pusaka budaya Melayu. Di lokasi itu, Menteri Wihaji dan rombongan berdoa bersama untuk mengenang jasa para leluhur.

Bacaan Lainnya

Perjalanan dilanjutkan ke makam Pahlawan Nasional Raja Ali Haji, ulama, pujangga, dan cendekiawan besar yang merumuskan tata bahasa Melayu sebagai fondasi Bahasa Indonesia modern. Dengan penuh khidmat, Menteri Wihaji menyampaikan rasa hormatnya atas jasa besar sang tokoh dalam dunia literasi Nusantara.

“Raja Ali Haji bukan hanya milik masyarakat Melayu, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia. Dari buah pikirnya lah kita memiliki bahasa persatuan yang menyatukan negeri ini,” tutur Wihaji.

Usai berziarah, rombongan beranjak ke Balai Adat Melayu, tempat yang menjadi pusat kegiatan budaya masyarakat setempat. Di sini, Menteri Wihaji melihat langsung bagaimana nilai-nilai tradisi dan kesenian Melayu tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

Tak berhenti di situ, kunjungan berlanjut ke Balai Maklumat Inderasakti, yang menyimpan hampir 500 koleksi naskah kuno berbahasa Melayu klasik dan aksara Arab-Melayu. Naskah-naskah tersebut memuat beragam aspek kehidupan masa kerajaan—mulai dari surat pemerintahan, hukum adat, hingga pengelolaan tanah dan laut.

Gubernur Ansar Ahmad menegaskan, kehadiran Mendukbangga di Pulau Penyengat menjadi simbol pengakuan nasional terhadap nilai sejarah dan kebudayaan Melayu.

“Pulau Penyengat adalah pusaka bangsa. Dari sini lahir pemikir besar seperti Raja Ali Haji yang warisannya menjadi bagian penting dari sejarah bahasa dan kebangsaan kita,” ujar Ansar.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Kepri berkomitmen menjaga dan merevitalisasi kawasan Pulau Penyengat agar terus menjadi destinasi sejarah unggulan nasional.

“Kami akan memastikan nilai-nilai sejarah, budaya, dan pendidikan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan menginspirasi generasi muda,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Wihaji mengaku terkesan dengan kekayaan intelektual dan spiritual masyarakat Melayu di Penyengat. Ia menyebut pulau kecil tersebut sebagai cermin kejayaan moral dan peradaban bangsa di masa lampau.

“Pulau Penyengat menyimpan warisan luar biasa. Dari sini kita belajar bagaimana nilai agama, budaya, dan kebangsaan berpadu menjadi kekuatan moral bangsa. Ini milik seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian situs sejarah bukan hanya penting untuk pariwisata, melainkan juga bagi pembangunan karakter dan pendidikan keluarga Indonesia.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Semangat literasi dan budaya dari Penyengat harus menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia dalam membangun generasi berkarakter, beradab, dan cinta ilmu,” tuturnya.

Sebagai penutup kunjungan, rombongan beribadah di Masjid Raya Sultan Riau, masjid legendaris abad ke-18 yang terkenal karena menggunakan campuran putih telur dalam bahan bangunannya. Menteri Wihaji mengagumi arsitektur dan makna filosofis masjid tersebut.

“Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat peradaban. Di sinilah dahulu ilmu, sastra, dan agama berpadu membentuk masyarakat yang luhur,” pungkasnya.

Turut mendampingi dalam kunjungan itu, Ketua TP-PKK Kepri Hj. Dewi Kumalasari Ansar, Ketua LAM Kepri Raja Al Hafiz, dan Kepala BKKBN Kepri Rohina.

(Ky)

Editor: R. Piliang

Pos terkait