Gelar Panen Raya Padi, Nawawi Jajal Mesin Combine Harvester dan Tindak Lanjuti Keluhan Petani

Gebraknews.co.id, Pasuruan – Pemerintah Kota Pasuruan kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong modernisasi sektor pertanian. Melalui Dinas Peternakan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Disperta), panen padi menggunakan teknologi combine harvester dilakukan di lahan milik Kelompok Tani Gotong Royong, Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo, Jumat (6/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Pasuruan M. Nawawi, Kepala Disperta beserta jajaran, pengurus Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), serta para petani setempat.
Mesin panen modern tersebut menjadi simbol peningkatan efisiensi pertanian di wilayah perkotaan, sekaligus solusi atas keterbatasan tenaga kerja tani di Kota Pasuruan.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan itu, Nawawi juga menjajal langsung mesin combine harvester bantuan dari Presiden RI. Ia menaiki mesin didampingi operator dan mencoba memanen beberapa petak sawah. Hasil panen berupa gabah kemudian langsung dikemas ke dalam karung berwarna biru.

“Sangat menunjang ketahanan pangan bagi petani di Kota Pasuruan. Lahan dua hektare bisa dipanen hanya dalam satu hari. Kalau manual bisa sampai seminggu. Ini jelas penghematan besar dari sisi waktu, tenaga, dan biaya,” ujar Nawawi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas bantuan alat pertanian tersebut. Menurutnya, penggunaan teknologi modern bukanlah ancaman bagi tenaga kerja manusia, melainkan solusi di tengah semakin minimnya buruh tani.

“Tenaga manusia tetap dibutuhkan. Namun realitanya di Kota Pasuruan buruh tani semakin sulit. Petani milenial harus adaptif, teknologi ini bukan pesaing, tetapi mitra,” tegasnya.

Dari dialog dengan para petani, penggunaan combine harvester terbukti jauh lebih efisien. Jika panen manual membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk lahan dua hektare, dengan mesin modern proses panen hanya memakan waktu satu hari.

Selain itu, Nawawi juga menanggapi keluhan petani terkait traktor roda dua yang menjadi aset Pemerintah Kota Pasuruan namun sulit dimanfaatkan.

“Saya segera berkomunikasi dengan pihak aset. Sabar nggeh,” ujar Nawawi kepada para petani.

Salah satu petani sekaligus pengurus UPJA Kota Pasuruan, Arifin, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap semakin menyusutnya lahan pertanian di Kota Pasuruan.

“Lahan pertanian semakin sempit. Dulu kami bisa menggarap lahan di Kelurahan Purworejo, sekarang didirikan Sekolah Rakyat padahal sewanya belum habis waktu itu,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) atau Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) tidak dialihfungsikan.

“Saya masih ingin bertani, tapi kalau lahannya habis mau bertani di mana?” keluh Arifin.

Sementara itu, petani dari Kelompok Tani Gotong Royong, Solihin, mengakui efektivitas penggunaan mesin combine harvester tersebut. Menurutnya, mesin ini sangat membantu mempercepat proses panen sekaligus meningkatkan kualitas hasil.

“Operasionalnya lebih mudah, hasilnya lebih bersih dan bagus. Kalau manual satu hektare bisa dua sampai tiga hari, kalau mesin ini satu hektare hanya dua sampai tiga jam,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi respons Wakil Wali Kota Pasuruan terhadap keluhan petani terkait traktor roda dua yang tidak dapat dimanfaatkan.

“Semoga yang dijanjikan Pak Nawawi bisa segera terwujud. Daripada tidak terpakai di gudang, kan mubazir,” ujarnya.

Dengan penggunaan teknologi pertanian modern seperti combine harvester, para petani berharap proses panen ke depan dapat semakin efisien sekaligus membantu menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan lahan dan tenaga kerja.

Penulis: Ichwan
Editor: R. Piliang

Pos terkait