Jenderal Tatang, Semangat Mengabdi yang Tak Pernah Padam

Catatan Ifan Tanjung

Dari Siak ke Pelalawan, Provinsi Riau, lantas singgah ke Batam, setelah itu akan berkeliling lagi ke beberapa daerah. Energi Jenderal bintang dua ini seakan tak ada habis-habisnya.

Bacaan Lainnya

Meski sudah purna tugas, tidak ada kata istirahat bagi Mayor Jenderal TNI (Purn) Tatang Zaenudin. Semangatnya mengabdi untuk negeri tak pernah padam. Berbagai cara dia lakukan untuk itu.

Mantan Deputi Bidang Operasi Basarnas RI ini berkeliling ke daerah-daerah saban hari.
Kini Jenderal Tatang Zaenudin menjabat sebagai Presiden Tani Indonesia. Organisasi inilah yang banyak menyita waktunya sekarang, disamping berbagai kegiatan sosial dan beberapa usahanya.

Perhatiannya terhadap kondisi masyarakat juga tak pernah luput.
“Dalam satu bulan boleh dibilang hanya dua hari saja saya di rumah,” katanya saat kami berbincang-bincang di Batam, Kamis, (17/6/2021)

Sebagai mantan prajurit. Dia begitu peka dengan keadaan.
Ketika terjadi bencana di NTT beberapa waktu lalu, Jenderal Tatang Zaenudin turun langsung dan bahkan merogoh kocek pribadinya cukup dalam untuk membantu masyarakat di sana.
Ia bahkan menargetkan akan mendirikan 1000 rumah sederhana untuk warga miskin di pedalaman.

“Sebagai purnawirawan, saya tidak bisa diam. Saya harus bergerak terus agar hati selalu bahagia. Saya harus banyak membatu orang. Salah satu sumber terbesar kebahagiaan adalah dengan membantu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat,” paparnya.

Tadi, usai dia berkeliling bersama koleganya. Saya dan sahabat, Kamal Asni “menculik”nya dari hotel tempatnya menginap.

Tak terasa, hampir tiga jam kami berbincang, obrolan mengalir begitu saja. Tatapan matanya masih tajam. Sebagai mantan petinggi Kopassus, badannya masih tangkas di usia 63 tahun, suaranya masih tegas, meski kelembutan khas orang sunda sesekali tetap terasa.

Selama bercengkrama, banyak ide dan masukan yang beliau berikan. Diskusi dengan tokoh yang telah beroleh bejibun penghargaan ini memberikan banyak pandangan baru.

Tiap tiap seruput kopi, tertuang ide-ide sekaligus kekhawatirannya tentang kondisi bangsa. Kegelisahannya ia tumpahkan di atas meja persegi itu. Dan kami menyimak dengan serius.
Diantara harapannya adalah agar petani dan peternak di Indonesia bisa lebih sejahtera dan lebih terperhatikan.

Rupanya selama berbincang, banyak sekali sahabat dan koleganya yang menelpon.
“Habis ini masih ada dua lagi yang menunggu. Perasaan mengobrol seperti setengah jam, ternyata sudah hampir tiga jam. Tak terasa,” katanya.
Hal ini terbukti ketika kami mengantarnya, telah ada yang seorang tokoh yang menantinya meski sudah tengah malam.

Besok, dia akan melanjutkan perjalanan kembali ke beberapa daerah di Sumatera.
**
Sehat selalu Jenderal. Semoga hal-hal baik selalu mengiringi.

Pos terkait