Keinginan Nek Ngadinem Tinggal di Rumah Layak Huni Segera Terwujud

Gebraknews.co.id, Labuhanbatu – Keinginan Nek Ngadinem wanita renta berusia 82 tahun, warga Dusun Sukamulia Utara, Desa Pondok Batu, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara, tinggal di rumah layak huni nampaknya segera terwujud.

Edy Suprapto, tokoh masyarakat setempat, penggagas “bedah rumah” nek Ngadinem membenarkan, keinginan nek Ngadinem bersama anaknya dan dua cucunya tinggal di rumah layak huni, segera terwujud.

“Iya Bang, keinginan nek Ngadinem tersebut, tidak terlalu lama lagi akan terwujud”, ucap Edy Suprapto yang juga anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Pondok Batu, menjawab pertanyaan melalui aplikasi perpesanan di telepon selular, Selasa (27/7/2021) siang.

Disebutkannya, sejak diberitakan di media online gebraknews.co.id Kamis (22/7/2021) lalu dan sempat viral di media sosial, banyak pihak terketuk hatinya membantu pembangunan rumah nek Ngadinem itu.

Katanya, ada yang membantu dalam bentuk bahan bangunan. Ada pula yang membantu dalam bentuk uang kontan. Bahkan komunitas ibu-ibu terketuk hatinya membantu bedah rumah ini.

Disebutkan Edy, dalam dua hari ini, sudah dimulai mengerjakan bedah rumah nek Ngadinem. Edy berharap, mudah-mudahan bantuan terus mengalir. Sehingga pembangunannya berjalan lancar.

Seperti diberitakan sebelumnya, di usia senjanya nek Ngadinem tinggal di gubuk reot nyaris tumbang, bersama anak wanitanya berstatus janda, Nursiti dan dua cucunya yang kini sudah duduk di bangku kelas 1 SMA dan sibungsu kelas 3 SMP.

Sebagai wanita lanjut usia, nek Ngadinem tidak memiliki pekerjaan. Sementara anaknya Nursiti, sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau istilah kerennya asisten rumah tangga. Dengan penghasilan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan segala keterbatasannya tersebut, nek Ngadinem bersama puteri dan dua cucunya harus bertahan hidup di dalam rumah yg tidak layak huni. Hampir semua atap seng penutup ruangan rumahnya dalam kondisi bocor.

Selain itu,  seluruh dinding rumahnya yang terbuat dari papan sudah pada lapuk dan tinggal menunggu tumbangnya saja.

“Yang paling sedih kalau pas turun hujan di tengah malam. Kami sama sekali tidak bisa tidur. Karena tidak ada tempat yang tidak bocor,” tutur nek Ngadinem.

Sementara Nursiti puteri nek Ngadinem bercerita. Setelah bertahun-tahun dia bekerja membanting tulang. Berkat kegigihannya bekerja, akhirnya dia dapat mengumpulkan uang senilai Rp 10 juta. Pada mulanya, dia tidak tahu, bagaimana mempergunakan uang sebanyak itu untuk memperbaiki rumahnya tersebut.

Dia mendapat saran dari tetangganya. Agar menghubungi seorang tokoh masyarakat, yang sehari-harinya berpropesi sebagai tukang. Dia pun mencoba menghubungi tokoh masyarakat juga duduk di Badan Perwakilan Desa (BPD) Pondok Batu, bernama Edy Suprapto. Dengan harapan, dari uang sebanyak itu, bisalah rumahnya diperbaiki. Edy Suprapto pun menyanggupinya.

Dalam penuturannya, Edy menyebutkan. Dengan uang sebanyaj itu, sebenarnya apa yang bisa saya perbuat, untuk memperbaiki rumah nek Ngadinem. “Apalah yang bisa saya perbuat dengan uang sebanyak itu bang. Dibelikan seng untuk ganti atap, sementara dinding rumah sudah mau tumbang. Sementara dibelikan ke papan dan kayu juga tidak cukup,” tutur Edy.

Namun dengan penuh keyakinan, saya coba menerima amanah ini untuk memperbaiki rumah nek Ngadinem. Saya ingin menggugah kepedulian warga, untuk sama-sama memikul beban ini. Saya yakin, bila kepedulian masyarakat kepada warga kurang mampu masih ada, harapan nek Ngadinem bersama anaknya Nursiti dalam waktu dekat, bisa menjadi kenyataan.

Sehingga kelak, nek Ngadinem bersama anak dan cucunya bisa tinggal dirumah layak huni. Tidak seperti saat ini, tinggal dudalam rumah beratapkan langit dan berdindingkan papan yang sudah lapuk dan dan terancam tumbang sewaktu-waktu. “Itulah harapan dan cita-cita saya”, tutur Edy mengakhiri perbincangannya itu. (Yasmir)

Pos terkait