Koprabuh Mulai Produksi Deasep dari Serang Banten

Gebraknews.co.id, BANTEN – Setelah melaunching produk Disinfektan kemarin di Jakarta, Koperasi Produsen Anugerah Bumi Hijau (Koprabuh) hari ini langsung bergerak produksi Deasep bersama Kelompok Petani Binaan Koprabuh, di Gunung Sari Kab Serang Provinsi Banten, Jumat (3/07/2020).

Bacaan Lainnya

CEO Koprabuh Yohanis Cianes Walean mengungkapkan, cuka kayu atau asam kayu, adalah cairan yang di produksi dengan cara pirolisa atau dekomposisi termal dari proses produksi arang, dengan tingkat oksida rendah, ujarnya.

Yohanis menjelaskan, proses pembuatan cuka kayu sebenarnya sangat sederhana, dimana hanya membutuhkan drum dan tabung freon bekas. Fungsinya tabung freon untuk menampung asap yang kemudian menjadi air, lalu di tampung di ember yang sudah disiapkan.

Selanjutnya, di dalam drum diisi kayu yang akan dibakar untuk menghasilkan asap, dimana pembakaran tersebut dilakukan selama 12 jam, yang nantinya menghasilkan cuka kayu sebanyak 20 liter.

Kemudian, drum yang diisi dengan kayu bakar ini, tidak boleh bocor, sehingga asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut tidak keluar sehingga menghasilkan asap yang maksimal.

Memang kalau diperhatikan, menggunakan drum tidak bertahan lama. hanya dua sampai tiga bulan. Namun disisi penggunaan itu sangat efisien karena hanya dengan budget yang sedikit dan sangat cocok bagi para Petani.

Ia juga menambahkan, produk Deasep ini mengandung 25 persen asam cuka, 1 persen serai yang berfungsi sebagai pewangi alami serta 74 persennya dari air, jadi sangat menjamin disinfektan Deasep ini sangat ramah lingkungan.

“Dari jumlah 100 persen cairan itu, 25 persen dari asam cuka, kemudian 1 persen itu adalah sereh, sereh itu tidak lain sebagai pewangi, kemudian 74 persen adalah air. Sungguh ramah lingkungan,” jelas Yohanes.

Produk Deasep, memang memiliki warna yang berbeda yakni coklat keruh seperti teh dan berbau alami. Adapun, penemuan dan pemanfaatan cuka kayu ini menurutnya bukanlah hal baru, karena cuka kayu ini sudah kerap digunakan oleh para petani untuk menyuburkan tanah atau bagi nelayan sebagai pengawet ikan.

“Selain itu kemudahan dari Deasep ini juga sangat membantu bagi petani karena selain mudah dan murah proses pembakaran juga mengunakan limbah kayu,” lanjut pria yang pernah meraih Guinness Book of Record dalam pemecahan rekor menanam 238.000 pohon ini.

Intinya meskipun produk ini terbilang sederhana proses pengelolaanya, namun produk ini telah diklaim oleh Balai Litbang Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai salah satu produk Inovatif ramah lingkungan yang efektif dan cocok untuk memerangi Covid-19.

Dikutip dari sambutan Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian KLHK Adison saat Launching Produk, Deasep juga selain tidak berbahaya untuk kulit ataupun tercampur ke bahan makanan dan minuman, produk ini juga bisa digunakan di tempat terbuka maupun tertutup. (Ril)

Pos terkait