Macron Indonesia

Catatan Ifan Tanjung

Satu hal menarik yang saya perhatikan dari rentetan kejadian pembunuhan di Perancis adalah reaksi dari netizen Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pembaca tentu sudah melihat dan mendengar apa sebab pembunuhan keji itu. Bila mengikuti perkembangan berita mestinya pembaca sudah pula melihat stetmen dari Presiden  negara kiblat mode dunia tersebut yang memicu reaksi dari negara-negara Islam.

Akan saya terangkan sekilas deretan peristiwanya untuk pembaca yang belum paham benar ikhwal apa yang terjadi di Perancis baru-baru ini yang sontak menjadi perhatian dunia.

Mulanya, Samuel Paty seorang Guru Sejarah dan Geografi di Perancis  menunjukan karikatur Nabi Muhammad yang dimuat di majalah Charlie Hebdo di hadapan muridnya sebagai bagian dari materi kebebasan berekspresi.

Untuk diketahui, Charlie Hebdo beberapa kali membuat kontroversi dengan menampilkan karikatur Nabi Muhammad dengan tampilan yang menistakan.

Aksi Samuel Paty ini lantas memicu reaksi dari orangtua murid dan pihak lainnya. Pada Senin (19/10/2020), sekira pukul 17.00, Paty ditemukan tewas dekat sekolah tempatnya mengajar di daerah Conflans Saint-Honorin, 30 kilometer  barat laut dari pusat kota Paris dengan kondisi yang amat sadis.

Pembunuhnya diketahui adalah seorang pemuda 18 tahun berdarah Chechnya bernama Abdoullakh Anzorov. Aparat keamanan setempat memastikan pembunuhan itu adalah buntut dari aksi Paty memamerkan karikatur Nabi Muhammad. Abdoullakh Anzorov lantas ditembak mati oleh polisi Perancis.

Presiden Perancis Emmanuel Macron memberi stetmen yang sangat tidak bijak menyikapi kasus penyerangan ini,
Macron menggeneralisasikan Islam sebagai teroris. Dia juga menyatakan terang-terangan tidak melarang dicetaknya karikatur Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo. Padahal penggambaran Nabi Muhammad dalam bentuk apapun adalah hal yang amat dilarang dalam Islam, apalagi jika digambarkan sebagai olok-olokan.

Sebelum kejadian ini, Macron beberapa kali juga mengeluarkan stetmen yang tidak mengenakkan soal Islam, hal ini tidak terlepas dari beberapa kasus teror yang terjadi di negara itu selama kurun lima tahun terakhir.

Negara-negara Islam berang, Presiden Turki Erdogan dan Pemerintah Perancis ‘berbalas pantun’. Majalah Charlie Hebdo kemudian juga memuat kartun Erdogan dengan tampilan cabul.

Sedang semua itu bergulir, Gereja Basilika Notre-Dame di pusat kota Nice diserang tiga orang menggunakan pisau, pada Kamis (30/10/2020). Tiga jemaat gereja dilaporkan tewas, lainnya luka-luka.

Umat islam menyatakan dengan lantang mengecam segala bentuk kekerasan seperti yang terjadi di Perancis itu.

Namun Macron makin menjadi-jadi.

Keterangan ini bisa panjang bila kita bahas lagi soal boikot memboikot produk yang juga sedang terjadi. Maka saya akan kembali ke pembahasan awal, mengulik reaksi dari masyarakat Indonesia.

Saya mengikuti dengan telaten pemberitaan di media massa arus utama, begitu juga dengan komentar pembaca melalui laman fanspage media tersebut.

Rupanya, banyak Macron lain di negara kita. Mereka menganggap kekerasan, pembunuhan sadis yang tidak manusiawi tersebut mewakili Islam. Kebencian mereka meledak-ledak jika dilihat dari sebagian komentarnya. Kendati hampir semua kalangan Islam mengecam pembunuhan sembari juga mengutuk keteledoran Charlie Hebdo dan Presiden Macron,  Macron Indonesia ini mengambil kesempatan untuk leluasa mengumbar kebencian terhadap Islam. Saya bergidik ketika mencermati komentar mereka satu per satu.

Berikut berapa komentar yang saya kutip. Adapun nama pembuatnya sengaja tidak saya tampilkan.

Kalau dilihat lihat diperhatikan diterawang dimanapun mereka berada pasti akan timbul keributan,” kata salah seorang warganet menanggapi pemberitaan salah satu media online.

“Membela agama yang penuh damai,” kata warganet lainnya dalam berita lain dengan kata sarkasme yang sangat jelas arahnya.

“Menghina agama lain diluar islam mah itu wajar, ketika balik agamanya disinggung dikit.? darahnya halal.
Takbirrrrr,” kata warganet lain.

“Emas tetaplah emas  walaupun dilempar kotoran. Beda dengan yang imitasi yang harus dijaga kilaunya supaya tidak luntur sepuhanya,” bunyi komentar lain di media dan berita berbeda.

“Buang ke laut semua pengungsi dari Timteng,” timpal yang lain.

“Saya da tau kaum dari mna yang biasa menggal orang, karna bagi mereka itu suatu kebanggaan.” tulis warganet lainnya.

Berita artis Dj. Butterfly yang baru mualaf pun dikomentari mereka seperti ini.

“4 yang meninggal, 3 di greja prancis 1 di sini, moga DJ itu baca berita yang di Perancis,” tulis seorang netizen mengomentari perpindahan keyakinan DJ asal tahiland tersebut.

Erdogan juga tak luput dari bulan-bulanan.

Banyak komentar lainnya menyinggung Islam yang menyedihkan hati yang tidak pantas saya muat. Kata-katanya tidak terperi menyudutkan islam,  terlebih jika yang berkomentar memakai akun anonim.

Islam Phobia nampaknya semakin meluas, bahkan hingga ke negeri kita. Padahal sangat terang betapa Indonesia selama ini bisa menjadi cerminan. Selama berabad-abad bersatu dalam perbedaan, non Islam bisa leluasa tampa intervensi dan kita semua hidup berdampingan dengan damai. Meski ada riak kecil, boleh dibilang hampir tidak ada gesekan yang berarti kendati 87,2 persen masyarakat Indonesia menganut agama Islam.

Islam dengan tegas mengharamkan membunuh nyawa manusia.
Membunuh dalam islam merupakan dosa besar. Sangat banyak diterangkan dalam Al-quran dan Hadist Nabi mengenai ini.

Membunuh dalam konteksnya pada zaman Nabi, hanya ada saat perang. Itupun jika umat islam terlebih dahulu diperangi dan memiliki banyak syarat yang harus dipatuhi.

Segala bentuk teror dengan alasan apapun bukanlah bagian dari Islam.

Umat Islam mengecam kelancangan Charlie Hebdo dan Presiden Emmanuel Macron dan mengutuk tindakan amoral menghilangkan nyawa manusia oleh segelintir orang dengan keyakinan sesat.

Jangan menjadi Macron lain yang berpotensi memecah belah.

Pos terkait