Memprihatinkan, Nek Ngadinem Tinggal di Gubuk Reot Bersama Anaknya yang Janda dan Dua Cucu

Gebraknews.co.id, Labuhanbatu – Nek Ngadinem, begitulah nama wanita renta yang kini berusia 82 tahun, warga Dusun Sukamulia Ytara, Desa Pondok Batu, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara.

Nek Nadinem bersama puterinya di depan gubuk reotnya. Butuh kepedulian warga untuk membantu perbaikannya.

Di usia senjanya itu, nek Ngadinem tinggal digubuk reot yang nyaris tumbang, bersama anak wanitanya berstatus janda, bernama Nursiti dan dua cucunya yang kini sudah duduk dibangku kelas 1 SMA dan sibungsu kelas 3 SMP.

Bacaan Lainnya

Sebagai wanita lanjut usia, nek Ngadinem tidak memiliki pekerjaan. Sementara anaknya Nursiti, sehari-harinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau istilah kerennya asisten rumah tangga. Dengan penghasilan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan segala keterbatasannya tersebut, nek Ngadinem bersama puteri dan dua cucunya harus bertahan hidup di dalam rumah yg tidak layak huni. Hampir semua atap seng penutup ruangan rumahnya dalam kondisi bocor.

Selain itu,  seluruh dinding rumahnya yang terbuat dari papan sudah pada lapuk dan tinggal menunggu tumbangnya saja.

“Yang paling sedih kalau pas turun hujan di tengah malam. Kami sama sekali tidak bisa tidur. Karena tidak ada tempat yang tidak bocor,” tutur nek Ngadinem.

Sementara Nursiti puteri nek Ngadinem bercerita. Setelah bertahun-tahn dia bekerja membanting tulang. Berkat kegigihannya bekerja, akhirnya dia dapat mengumpulkan uang senilai Rp 10 juta. Pada mulanya, dia tidak tahu, bagaimana mempergunakan uang sebanyak itu untuk memperbaiki rumahnya tersebut.

Namun dia mendapat saran dari tetangganya. Agar menghubungi seorang tokoh masyarakat, yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang. Diapun mencoba menghubungi tokoh masyarakat juga duduk di Badan Perwakilan Mastarakat Desa Pondok Batu, bernama Edy Suprapto. Dengan harapan, dari uang sebanyak itu, bisalah rumahnya diperbaiki. Edy Suprapto pun menyanggupinya.

Dalam penuturannya kepada gebraknews.co.id, Edy Suprapto menyebutkan. Dengan uang sebanyak itu, sebenarnya apa yang bisa saya perbuat, untuk memperbaiki rumah nek Ngadinem. “Apalah yang bisa saya perbuat dengan uang sebanyak itu bang. Dibelikan seng untuk ganti atap, sementara dinding rumah sudah mau tumbang. Sementara dibelikan ke papan dan kayu juga tidak cukup”, tutur Edy.

Namun dengan penuh keyakinan, saya coba menerima amanah ini untuk memperbaiki rumah nek Ngadinem. Saya ingin menggugah kepedulian warga, untuk sama-sama memikul beban ini. Saya yakin, bila kepedulian masyarakat kepada warga kurang mampu masih ada, harapan nek Ngadinem bersama anaknya Nursiti dalam waktu dekat, bisa menjadi kenyataan.

Sehingga kelak, nek Ngadinem bersama anak dan cucunya bisa tinggal dirumah layak huni. Tidak seperti saat ini, tinggal di dalam rumah beratapkan langit dan berdindingkan papan yang sudah lapuk dan terancam tumbang sewaktu-waktu. “Itulah harapan dan cita-cita saya”, tutur Edy mengakhiri perbincangannya. (Yasmir)

Pos terkait