Gebraknews.co.id, Karimun – Sore belum sepenuhnya turun di langit Desa Sugi, Kecamatan Sugie Besar, Karimun. Seorang pria dibantu beberapa orang warga tampak sibuk menyambungkan pipa air yang bocor di sekitar pemukiman. Tak ada yang istimewa, hanya seorang pria paruh baya mengenakan celana pendek, memakai sandal jepit dan bertopi, layaknya orang kampung pada umumnya. Tapi bagi warga Sugie, pria itu adalah penyambung hidup, penjaga aliran air bersih yang mereka nikmati setiap hari: Asai.
Ketika mengetahui pipa yang mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga bocor. Asai langsung segera turun tangan. Ia memperbaiki kembali pipa tersebut dengan peralatan sederhana.
“Saya baru pulang, lihat air bocor, langsung saya perbaiki. Pakai alat seadanya,” ujarnya santai, Senin (30/6/2025).
Asai bukanlah pejabat. Tapi ia adalah orang yang setiap harinya memastikan masyarakat punya akses air bersih secara cuma-cuma. Di tengah krisis air yang kerap menghantui wilayah pesisir, apa yang dilakukan Asai adalah bentuk ketulusan langka—mengalir seperti air yang ia bagi.
“Ini bentuk kepedulian saya. Sekalian cari pahala,” katanya ringan.
Kebaikan Asai tidak berhenti pada distribusi air. Seperti pada kesempatan kali ini, Ia juga menjadi “tukang darurat”, siap memperbaiki jika pipa pecah atau aliran tersendat. Tanpa dibayar, tanpa diminta. Tak peduli siapa yang membutuhkan—tetangga dekat, warga jauh, atau siapa saja yang kesulitan air.
“Menolong itu sudah jadi ajaran orang tua saya sejak kecil,” katanya.
Warga mengenalnya sebagai sosok yang tak pernah hitung-hitungan saat dibutuhkan. Di saat sebagian orang menjadikan air sebagai komoditas, Asai memilih menjadikannya ladang kebaikan. Dengan infrastruktur yang ia kelola sendiri, ia menjadi penyalur harapan, terutama saat musim kemarau.








