Gebraknews.co.id, Pasuruan – Peringatan Hari Guru Nasional 2025 menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan tinggi di Pasuruan. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Pasuruan Raya (BEMPAS Raya) menyoroti masih munculnya praktik komersialisasi pendidikan, dugaan pungutan liar (pungli), serta minimnya transparansi anggaran di sejumlah perguruan tinggi swasta.
Koordinator BEMPAS Raya, M. Ubaidillah Abdi, menyampaikan bahwa peringatan Hari Guru tahun ini meninggalkan rasa bangga sekaligus keprihatinan.
“Ini momen antara bangga dan menangis. Bangga kepada para dosen yang menjaga integritas akademik, tapi sedih melihat institusi pendidikan yang seharusnya suci justru tercemar praktik komersialisasi,” ujar Abdi dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).
Menurutnya, BEMPAS Raya menerima berbagai keluhan mahasiswa terkait dugaan pungli berkedok biaya administrasi, termasuk pembayaran yang tidak transparan hingga munculnya biaya tak terduga di luar ketentuan resmi akademik.
“Masih kita temukan pola-pola transaksional di kampus. Minimnya transparansi pembayaran membuka ruang bagi pungli. Padahal kampus adalah benteng moral,” tegasnya.
Koordinator Advokasi BEMPAS Raya, M. Qommaruddin, menambahkan bahwa label “kampus” sering dimanfaatkan oknum untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok.
“Pendidikan tinggi tidak boleh berubah menjadi ladang bisnis yang mencekik. Ketika transparansi anggaran ditutup-tutupi, celah penyelewengan akan muncul. Ini pengkhianatan terhadap nilai-nilai pendidikan,” ujarnya.
Melalui momentum Hari Guru Nasional, BEMPAS Raya mendesak Yayasan, Rektorat, serta lembaga pengawas seperti Kopertais dan LLDIKTI untuk melakukan audit dan evaluasi menyeluruh.
“Kami mendesak adanya perbaikan sistem. Jangan biarkan mahasiswa menjadi sapi perah atas nama pendidikan. BEMPAS Raya akan terus mengawal hingga transparansi benar-benar terwujud di kampus-kampus Pasuruan,” pungkasnya.
(Ichwan)








