Momentum Hari Pahlawan, Kamu Harus Tahu Perjuangan Pahlawan Asal Kepulauan Riau

Raja Haji Fisabilillah, salah satu Pahlawan Nasional dari Kepri.

Gebraknews.co.id, Tanjungpinang — Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Namun, di antara deretan nama besar pahlawan nasional, ada tiga tokoh asal Kepulauan Riau (Kepri) yang kiprah dan perjuangannya turut membentuk sejarah bangsa,  yaitu Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, dan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Tiga nama ini bukan hanya simbol keberanian di wilayah perbatasan, tetapi juga lambang kejayaan peradaban Melayu yang pernah menguasai lautan dan ilmu pengetahuan. Peringatan Hari Pahlawan menjadi momentum tepat untuk menelusuri kembali jejak perjuangan mereka — dari lautan Selat Malaka hingga lembaran sastra klasik yang membentuk identitas bangsa.

Bacaan Lainnya

Raja Haji Fisabilillah — Panglima Laut yang Gugur di Medan Tempur

Sekitar pertengahan abad ke-18, nama Raja Haji Fisabilillah menggema di lautan Selat Malaka. Putra dari Kesultanan Riau-Lingga ini dikenal sebagai panglima tangguh yang berperang melawan penjajahan Belanda.
Dengan armada lautnya, ia memimpin pertempuran sengit di Teluk Ketapang, Melaka, pada tahun 1784. Pertempuran itu berlangsung berbulan-bulan hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada di medan perang.

Keberanian Raja Haji menjadikan wilayah pesisir Melayu tetap berdaulat di tengah tekanan kolonial. Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1997. Namanya kini diabadikan menjadi Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah di Tanjungpinang — simbol kebanggaan masyarakat Kepri.

Raja Ali Haji — Ulama dan Pemikir yang Menyatukan Bahasa Bangsa

Berbeda dengan perjuangan fisik sang pendahulu, Raja Ali Haji menempuh jalan intelektual. Lahir di Pulau Penyengat sekitar tahun 1803, ia dikenal sebagai ulama, sastrawan, dan pemikir besar Melayu.
Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, bukan hanya kumpulan nasihat moral, tetapi juga pedoman hidup yang menanamkan nilai kejujuran, ilmu, dan tanggung jawab. Selain itu, lewat Kitab Pengetahuan Bahasa dan Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji turut meletakkan dasar bagi perkembangan bahasa Melayu baku — cikal bakal Bahasa Indonesia yang kita gunakan hari ini.

Atas jasanya yang luar biasa dalam membangun fondasi intelektual bangsa, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2004. Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan pena dan pemikiran.

Sultan Mahmud Riayat Syah — Sultan Muda yang Melawan Kolonial

Nama Sultan Mahmud Riayat Syah tercatat sebagai salah satu raja besar Kesultanan Riau-Lingga. Ia naik tahta di usia sangat muda — sekitar dua tahun — namun tumbuh menjadi pemimpin yang cerdas dan berani.
Dalam masa pemerintahannya, ia berhasil menyatukan kekuatan kerajaan-kerajaan Melayu untuk melawan hegemoni Belanda. Strateginya yang menguasai jalur perdagangan laut membuat Belanda kewalahan.

Sultan Mahmud Riayat Syah wafat pada 12 Januari 1811, tetapi semangat juangnya tidak pernah padam. Pada tahun 2017, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI sebagai pengakuan atas perjuangan dan kepemimpinannya yang luar biasa.

Tiga pahlawan asal Kepri ini menunjukkan bahwa perjuangan datang dalam banyak bentuk: dengan senjata, dengan ilmu, dan dengan kepemimpinan.
Raja Haji Fisabilillah mengajarkan arti keberanian dan pengorbanan; Raja Ali Haji menanamkan pentingnya ilmu dan bahasa; sementara Sultan Mahmud Riayat Syah mencontohkan bagaimana pemimpin muda mampu menghadapi tantangan besar dengan kecerdikan.

Nilai-nilai ini sangat relevan bagi generasi sekarang — terutama anak muda Kepri — yang hidup di tengah arus globalisasi dan teknologi. Semangat pantang menyerah, kecintaan pada tanah air, serta komitmen menjaga marwah bangsa harus terus dirawat agar tidak pudar ditelan zaman.

Penulis: Dil
Editor: R. Piliang

Pos terkait