Muhammadiyah di Tengah Gempuran Gerakan Islam Transnasional

Oleh: H Tirtayasa, C.NLP., S.Ag., M.A.

Mahasiswa Prodi Doktor Pendidikan Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Malang

Bacaan Lainnya

November adalah bulan yang bersejarah bagi warga Muhammadiyah, sebab di bulan tersebut K.H. Ahmad Dahlan telah mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912. Angka 109 tahun bukanlah jangka waktu yang singkat untuk menyebut jejak panjang sejarah perjuangan dan pengabdian Persyarikatan Muhammadiyah. Muhammadiyah lebih dulu berdiri jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Di abad kedua ini, Muhammadiyah menghadapi perkembangan dunia yang semakin kosmopolit dan Muhammadiyah harus berperan sebagai bagian yang integral dari warga semesta dan dituntut komitmennya dalam menyebarluaskan gerakan pencerahan, demi terwujudnya wawasan kemanusiaan yang universal dan menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, kemajemukan, kebajikan, peradaban, dan nilai-nilai utama.

Tumbuhnya gerakan-gerakan Islam transnasional adalah salah satu fenomena global yang cukup menyedot perhatian Muhammadiyah sejak dari awal gerakan ini masuk ke tanah air. Kemunculan gerakan-gerakan Islam transnasional ini tidak cukup menjadi perhatian saja tapi juga penting untuk dikaji oleh Muhammadiyahkarena ia merupakan fenomena yang tidak hanya mempengaruhi citra Muhammadiyah tapi turut serta mempengaruhi citra Islam di mata Indonesia bahkan juga dunia.

Munculnya gerakan Islam transnasional ini merupakan akibat dari situasi dunia, termasuk dunia Islam, yang pada saat itu tengah memasuki era modern. Tidak sedikit umat muslim yang kehilangan arah akibat ketidaksiapandalam  memasuki periode tersebut. Untuk mengatasi persoalan tersebut, umat Islam melakukan identifikasi diri melalui penafsiran agama yang khas yang pada intinya menekankan pada pentingnya pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari(Syaoki, 2017).

Istilah transnasional merupakan gabungan dari dua katayaitu “trans” dan “nasional”. Kata “trans” berarti melintang, melintas, menembus dan melalui. Kata “nasional” berarti bersifat kebangsaan, berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri. Dalam kamus Oxford, keduanya diartikan sebagai berikut. “Trans” berarti something that is present or moves from one place to another (on or from the other side of), sesuatu yang hadir atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain (pada atau dari sisi lain). Sedangkan “national” diartikan a nation or a group of societies which as a whole form the citizens of a state (suatu bangsa atau kelompok masyarakat yang secara keseluruhan merupakan warga negara suatu negara). Istilah transnasional awalnya merupakan sebuah aktivitas diaspora, di mana aktivitas itu ditunjukkan dengan berpindahnya suatu penduduk ke negara lain. Pada perkembangan selanjutnya, istilah transnasional mulai bergeser menjadi suatu interaksi antara seseorang atau institusi yang melewati batas negara nasional modern (Asroor, 2019).

Dalam kaitannya dengan agama, khususnya Islam, gerakan Islam transnasional dapat diterjemahkan dengan suatu gerakan yang memiliki ajaran atau ideologi yang datang dari satu negara ke negara lain. Ia tidak muncul dari dalam, sebaliknya muncul dari luar untuk mempengaruhi warna Islam yang sudah ada dalam sebuah negara. Kalau boleh disederhanakan, gerakan Islam transnasional dapat dicirikan sebagai gerakan yang memperjuangkan beberapa hal berikut: ajaran Islam yang utuh (kaffah), Islam yang tidak memisahkan agama dan negara, penerapan syariat di seluruh aspek kehidupan, menjadikan umat Islam menjadi satu (ummah) melalui khilafah, romantisme terhadap model kekhalifahan Islam sebagaimana di masa Nabi dan sahabat (Asroor, 2019). Namun, dalam perkembangannya gerakan Islam transnasional ini lebih bercorak skriptualistis, tekstual, kaku dan rigid dalam pemahaman keislamannya (Majidah, 2020).

Dalam upaya menjelaskan terminologi Islam transnasional atau transnasionalisme Islam juga bisa dipinjam pengertian yang diungkapkan oleh J. R Bowen yang mencakup tiga hal yaitu pertama, pergerakan demografis; kedua,lembaga keagamaan transnasional; dan ketiga, perpindahan gagasan atau ide.Pengertian pertama mengandung makna bahwa transnasionalisme Islam berarti pergerakan Islam lintas negara. Pengertian kedua mengandung makna perangkat kelembagaan yang memiliki jejaring internasional. Pengertian ketiga mengandung pengertian perpindahan ide atau gagasan dari individu atau kelompok satu ke individu atau kelompok yang lain, serta dari negara satu ke negara yang lain. Apabila terminologi Islam transnasional dikategorikan dalam arti demikian, maka terdapat kesamaan persepsi secara umum bahwa gerakan Islam transnasional adalah sebuah gerakan Islam yang melintasi wilayah teritorial negara tertentu. Gerakan organisasi ini berorientasi pada agenda penyatuan umat Islam di seluruh dunia yang ideologi keislamannya didominasi oleh pemikiran skripturalis, tekstual, normatif, radikal, fundamental, dimana gagasannya berbeda dengan konsep negara bangsa (nation-state)(Aksa, 2017).

Indonesia sendiri dikarenakan posisinya sebagai negara yang memiliki penduduk beragama Islam terbesar di dunia lalu menjadi lahan subur bagi berkembangnya gerakan Islam transnasional. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya gerakan-gerakan Islam baru yang muncul di Indonesia seperti: Salafi-Wahabi, Ahmadiyah, Jamaah Tablig dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) (Asroor, 2019).

Dalam perkembangannya, seperti dikemukakan Majidah (2020), gerakan Islam transnasional ini mulai melakukan infiltrasi halus ke dalam beberapa organisasi moderat di Indonesia seperti Muhammadiyah. Dalam beberapa hal pandangan keagamaan mereka sering berseberangan dengan Muhammadiyah seperti konsep keluarga, peran akal, ‘amar ma’ruf nahi munkar bahkan cara berpakaian, dan peran wanita.

Beberapa fatwa yang mereka keluarkan,dalam pandangan Majidah (2020),terkesan “lebih” tegas mengenai hal-hal yang bersifat syubhat, halal, dan haram bahkan tak jarang ghuluw(melampaui batas) dalam beberapa hukum fikih. Mereka juga sangat “keras” dalam melakukan pembersihan praktek-praktek bid’ah, takhayul, khurafat di masyarakat, hingga kadang tidak gentar ketika harus bergesekan dengan local wisdom (kearifan lokal) di tengah-tengah masyarakat. Tentunya hal ini berbeda sekali dengan ideologi Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam dengan mengemban misi dakwah dan tajdid berasas Islam serta bersumber dari al-Qur’an dan hadis, yang konsistendalam menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil’alamain(rahmat bagi seluruh alam). Dalam beragama, Muhammadiyah selalu memperlihatkan sikap wasathiyah (moderat).

Adapun strategi-strategi yang digunakan oleh Islam transnasional dalam melakukan infiltrasi kedalam Muhammadiyah adalah dengan memasuki masjid-masjid yang dikelola oleh kader Muhammadiyah dan sedikit demi sedikit mengisi kajian atau pengajian di dalam masjid bahkan dalam beberapa kasus mulai bersifat eksklusif. Selain menyasar masjid-masjid, mereka juga gencar menyebarkan misi dakwah mereka ke dalam perguruan-perguruan tinggi di Muhammadiyah dengan beberapa cara.

Sebagai contoh di beberapa kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta mereka mulai mengadakan kegiatan-kegiatan halaqah, daurah,atau liqa’ di sekitar kampus dengan mendirikan basecamp di sekitar kampus. Bahkan ada beberapa di antara nereka yang mulai memberanikan diri mengadakan kajian di dalam masjid kampus yang bersifat eksklusif karena hanya diikuti secara terbatas. Gesekan akan mulai terasa ketika dalam beberapa kasus mulai menolak fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih seperti contohnya dalam berpakaian dan lain sebagainya. Dalam arti lain tak jarang fenomena ini mampu menggeser paham keagamaan Muhammadiyah dengan ideologi mereka (Majidah, 2020).

Di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau, gerakan Islam transnasional mulai dirasakan kehadirannya pada era tahun 2000-an. Sebuah masjid di jantung kota Ranai menjadi tempat mereka melakukan kajian dengan mendatangkan penceramah dari luar Kabupaten Natuna. Meskipun bukan milik Muhammadiyah, masjid tersebut sebelum kehadiran gerakan Islam transnasional ini, dikenal masyarakat sebagai masjid yang berpaham Muhammadiyah, namun hingga hari ini masjid tersebut bisa disebut sudah “dikuasai”oleh kelompok Islam transnasional. Kelompok ini dalam dakwahnya tidak segan-segan “mendoakan” umat Islam di luar kelompok mereka agar mendapatkan“hidayah”untuk mengikuti pengajian yang mereka selenggarakan. Mereka juga sudah membangun beberapa mushala, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan sedang membangun pesantren yang diberi nama dengan nama salah satu pendiri mazhab fikih padahal mereka bukanlah penganut mazhab tersebut.

Seperti dikemukan Majidah (2020), strategi dakwah yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah di tengah gempuran gerakan Islam transnasional tersebut di antaranya adalah dengan menguatkan dan meneguhkan ideologi Muhammadiyah. Penguatan ideologi ini bisadilakukan dengan melalui massifikasi pengajian ranting, cabang, daerah untuk meneguhkan paham  beragama (Islam) persyarikatan. Selain itu juga dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas mubaligh-mubalighah Muhammadiyah melalui korps mubaligh dan mubalighah. Setelah itu perlu diorbitkan mubalighah-mubalighah Muhammadiyah baik melalui media sosial dan lainnya.

Langkah selanjutnya yakni optimalisasi dakwah di media sosial. Penggunaan media sosial juga mampu mengjangkau kalangan milineal yang sangat intens berselancar di dunia maya. Pemilihan konten dakwah yang lebih “membumi” dengan realitas masyarakat juga turut berpengaruh dalam menunjang keberhasilan dakwah. Tema-tema yang terlalu berat biasanya kurang diminati karena masyarakat lebih senang mendengarkan pesan dakwah yang ringan dan kekinian serta mampu menjawab problematika kehidupan.

Sedangkan untuk membendung infiltrasi dakwah gerakan-gerakan Islam transnasional yang tidak sesuai dengan manhaj Muhammadiyah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, diperlukan ketegasan otoritas kampus dalam menertibkan kegiatan-kegiatan kajian yang disinyalir menyebarkan paham-paham yang tidak sesuai dengan ideologi Muhammadiyah. Penguatan materi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di dalam perkuliahan juga perlu dikemas lebih menarik lagi dengan menggunakan pembelajaran yang bersifat active learning (pembelajaran aktif).Kemudian, sinergitas dalam berdakwah juga perlu digalakkan  baik secara internal ataupun eksternal. Pihak internal kampus bisa bekerjasama dengan Muhammadiyah, Aisyiyah, maupun ortom lainnya serta dengan perguruan-perguruan tinggi Muhammadiyah.

Perlu dikemukakan di sini poin-poin sikap Muhammadiyah terhadap gerakan Islam transnasional yang disari dari pemikiran Haedar Nashir (2006) dalam bukunya Manifestasi Gerakan Tarbiyah Bagaimana Sikap Muhammadiyah,yang diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah sebagaimana dimuat dalam kemuhammadiyahan.com.

Pertama, bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam independen dan memiliki rumah sendiri yang tidak dapat dimasuki organisasi atau gerakan lain siapapun organisasi atau gerakan itu. Kedua, kelompok atau gerakan Islam transnasional apalagi partai politik apapun adalah organisasi di luar Muhammadiyah. Karena itu jika masuk ke dalam tubuh Muhammadiyah dan menarik anggota atau menyebarkan paham gerakannya baik paham itu sama maupun beda, itu tidak etis, melanggar kepantasan serta tidak semestinya dilakukan. Ketiga, menyamakan, apalagi simpati dan mendukung penyebaran organisasi lain merupakan sikap dan tindakan yang tidak mencerminkan komitmen utama dalam bermuhammadiyah.

Keempat, berukhuwah, bertoleransi dan bekerja sama dengan sesama komponen umat Islam maupun masyarakat luas merupakan bagian dari sikap dasar dan keluasan gerak Muhammadiyah. Namun bukan berarti harus membiarkan paham atau gerakan lain masuk ke dalam tubuh Persyarikatan. Kelima, membela ideologi dan kepentingan Muhammadiyah tidak identik dengan mengobarkan permusuhan, tidak toleran, tidak ukhuwah dan tidak bekerja sama dengan sesama umat maupun masyarakat luas. Keenam, Muhammadiyah tentu memiliki kelemahan sebagaimana organisasi lain pun memiliki kekurangan. Namun hal itu tidak berarti organisasi atau paham lain boleh masuk dan kemudian menarik warga Muhammadiyah dengan memanfaatkan kelemahan itu.

Ketujuh, menjaga rumah tangga Muhammadiyah merupakan kewajiban bagi siapapun yang berada didalamnya termasuk dalam menegakkan sistem organisasi dengan seluruh pahamnya. Kedelapan, sebuah paham jangan hanya dilihat dari aspek manhaj atau normatifnya yang tekstual tetapi lihat juga gerakannya. Kesembilan, Muhammadiyah bukanlah “tenda besar” yang boleh serba bebas dimasuki dan dirambah oleh siapapun untuk berekspansi di dalamnya. Kesepuluh, Muhammadiyah senantiasa menghormati kelompok Islam, partai politik dan kelompok masyarakat apapun, karena itu pihak lain juga harus menghormati Muhammadiyah.

Selamat Milad Muhammadiyah ke-109. Optimis hadapi Covid-19: menebar nilai utama.***

 

Pos terkait