Nggak Sengaja Buzzer

Ilustrasi: Ist

Oleh: Ifan Tanjung

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara  terhadap dua tersangka kasus teror dengan air keras kepada Novel Baswedan menuai protes dari berbagai pihak.

Bacaan Lainnya

Mulai dari akademisi, ahli hukum, aktivis hingga aktris bersuara terhadap putusan yang dinilai janggal tersebut.
Bagaimana tidak, dua tersangka penyerang Novel, yakni RK dan RB cuma dituntut jaksa dengan hukuman 1 tahun penjara.

Baru-baru ini, Komika Bintang Emon turut melancarkan protesnya dalam bentuk vidio berdurasi pendek. Ya, namanya pelawak tentu protesnya juga dikemas dengan cara yang lucu. Saya yakin, selorohannya itu meski berbau kritik mampu membuat netizen paling tidak tersenyum simpul saat menontonnya.

Vidio lelaki yang bernama lengkap Gusti Muhammad Abdurrahman Bintang Mahaputra itupun lantas beredar luas di jagat media sosial, dengan tagar “Ga sengaja.”

Meski lucu-lucuan, ternyata mampu membuat pihak tertentu gerah. Gerahnya bukan main. Sampai-sampai akun media sosial Bintang Emon mendapat serangan siber. Lebih parahnya Buzzer-buzzer turut dikerahkan ke berbagai platform media sosial untuk membunuh karakter Bintang Emon.

Tampaknya, para Buzzer yang seperti terkoordinir ini salah langkah. Jangan-jangan tuannya yang salah langkah, sehingga kali ini polanya gampang dibaca publik. Publik, mulai dari yang se awam-awamnya sampai kepada kelas intelek tentu bisa membaca sebab akibat dari kejadian ini. Sehingga puncaknya, hari ini nama Bintang Emon menjadi trending topic. Paling banyak diperbincangan di jagat maya.

Polanya jelas sekali. Usai dikritik langsung muncul serangan siber kepada si pengkritik secara bertubi-tubi.

Kini muncul pertanyaan publik, siapa yang memelihara buzzer-buzzer itu dan mengarah kemana puncak mata rantainya, ke mana bermuaranya. Sebenarnya publik bukan lagi bertanya-tanya, tetapi sudah masuk ke ranah menduga-duga. Sebab jelas sekali cara mainnya. Sebab memang sungguh para buzzer-buzzer tersebut atau tuannya itu kali ini salah langkah. Karna, biasanya yang namanya Buzzer mainnya senyap dan perlahan hingga tak banyak yang menyadari mereka telah termakan doktrin tertentu yang sengaja dihembuskan. Kini banyak yang menyadari permainannya, meskipun sepertinya kedepan banyak kartu yang bakal dimainkan. Banyak lagi cara dan intrik yang  bakal dijalankan.

Polanya terlihat hampir sama dengan pembunuhan karakter Novel Baswedan  yang terjadi belakangan. Setelah karakter NB berupaya direndahkan di jagat media sosial, publik menjadi terbelah. Sebagian masih pro kepada pengusutan kasus yang menimpa Novel, sebagian menganggap NB mengada-ada. Dan atas dibentuknya opini publik sedemikian rupa banyak juga yang melontarkan bahwa ini adalah karma bagi NB. Demikian yang saya amati dengan teliti di media sosial.

Kini tinggal lagi mengurai benang merahnya. Siapa yang mendanai para Buzzer-buzzer itu. Siapa saja yang terlibat di dalamnya. Bisa jadi ini bertalian dengan dalang sesungguhnya kasus ini. Publik boleh saja menduga demikian, sebab sejak awal kasus ini memang menyimpan banyak tanda tanya.

Terkait Buzzer ini, anggota DPR RI telah meminta pemerintah  melaui Kominfo untuk menertibkan akun-akun pesanan yang kerap merusak tatanan keharmonisan bermedia sosial itu.

Sebenarnya selain ditertibkan, juga harus dicari siapa dalangnya dan dibuka di muka publik aktornya agar tidak semakin memperuncing ketidakpercayaan masyarakat dan agar publik tidak menduga-duga yang akhirnya bisa berakibat salah duga.

Sejumlah aktifis menilai, serangan terhadap Bintang Emon adalah bentuk menciderai iklim demokrasi, menghambat kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat atau pikiran.
Menurut saya, Iklim demokrasi kita sebenarnya bukan lagi cidera tetapi sudah sakit, meski belum sakit akut.

Batam 15 Juni 2020

Pos terkait