Pahlawan dan Penghianat

Catatan Ifan Tanjung

 

Bacaan Lainnya

Semenjak ditetapkannya 10 November sebagai hari pahlawan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959, maka hari ini, pada tanggal dan bulan yang sama tiap tahunnya kita memperingati hari pahlawan.

Secara historis, sebenarnya tanggal 10 November merupakan peringatan peristiwa perang besar yang terjadi di Surabaya pada tahun 1945. Dalam pertempuran yang terjadi selama tiga minggu masa itu, dikabarkan sedikitnya 6.000 pejuang Indonesia gugur. Peristiwa itulah yang menjadi titik balik peringatan hari pahlawan.

Namun secara umum, hingga kini peringatan hari pahlawan seyogyanya memperingati perjuangan dan jasa-jasa seluruh pejuang terdahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Dalam konteks masa sekarang, pahlawan bukan lagi mereka yang berjuang angkat senjata. Namun pahlawan adalah mereka yang melalui berbagai cara lewat bidang yang ditekuni masing-masing turut membangun bangsa, memberikan kontribusi serta dampak positif bagi orang di sekitarnya.

Juru rawat yang membantu menangani Covid-19 patut dianggap sebagai pahlawan, tenaga pendidik yang konsisten mencerdaskan generasi penerus bangsa juga patut dicap sebagai pahlawan. Para dermawan yang menyumbangkan hartanya untuk membantu yang kekurangan pantas disebut sebagai pahlawan, juga relawan kemanusiaan dan lingkungan yang telah berperan menyumbangkan tenaganya untuk membantu orang lain dan lingkungan hidup. Tak terkecuali para pemangku kepentingan yang amanah, jujur dan anti rasuah.

Masih banyak lagi yang patut disebut pahlawan saat ini yang tidak bisa diuraikan satu per satu.

Namun seperti halnya dahulu, ada pahlawan ada pula yang namanya penghianat dan sampah bangsa. Penghianat ini sejak zaman baheula kerap dimanfaatkan oleh penjajah untuk menggerogoti bangsanya sendiri.

Penghianat bangsa itu tidak sedikit jumlahnya di zaman sekarang ini, tentu dengan konteks yang berbeda pula.

Pejabat yang tak jujur dan doyan korupsi adalah penghianat bangsa. Memang amat jarang kita jumpai para pemangku kepentingan di negeri ini yang benar-benar bersih.

Mereka yang mampu, namun doyan memborong BBM dan gas bersubsidi jatah orang miskin adalah juga penghianat bangsa.
Legislatif, eksekutif yang tidak mentaati janjinya adalah penghianat bangsa.
Bandar narkoba juga jelas-jelas penghianat bangsa. Oknum yang suka memecah belah masyarakat melalui framing dan isu-isu tertentu adalah juga penghianat bangsa. Serta banyak lagi contoh lainnya.

Para penghianat dan sampah bangsa inilah penghambat terbesar bagi kemajuan bangsa kita.

Kelak, kita yang hidup di masa sekarang ini melalui tindak tanduk yang kita lakukan, akan dikenang oleh orang setelahnya kita, entah oleh keluarga kita, orang sekitar, dan masyarakat banyak. Apakah kita bakal dikenang sebagai pahlawan atau sebagai antonim dari pahlawan itu sendiri.

Maka senantiasa lakukanlah yang terbaik dan berjalan di jalur yang benar sesuai dengan profesi yang dijalani.

Pos terkait