Perhatikan Juga yang Bukan Ojol

Ilustrasi: Pinterest

Catatan  Ifan Tj

Belakangan ini, isi pemberitaan media massa, perhatian pejabat dan para orang kaya nampaknya kebanyakan tertuju kepada pengemudi Ojek Online (Ojol) saja.

Bacaan Lainnya

Seakan-akan Ojol menjadi tamsil daripada orang miskin dan rakyat jelata. Di jalan-jalan banyak orang kaya yang membagikan makanan gratis untuk Ojol. Berbagai kemudahan dan bantuan juga diberikan untuk para pengemudi daring tersebut. Asal viral, langsung diguyur bantuan, seperti yang banyak kita saksikan di laman media sosial dan media massa baru-baru ini.

Memang benar, pengemudi Ojol itu merasakan dampak hantaman virus Corona yang tengah melanda, penghasilan mereka merosot tajam.

Namun, jika ditilik lebih jauh, amat banyak profesi lain yang juga sangat-sangat membutuhkan bantuan di kala pandemi ini. Ojek pangkalan, taxi konvensional, buruh harian, pedagang asongan, tukang pijat, tukang cukur, wartawan, semua juga musti diperhatikan.

Selain daripada itu, saat ini setidaknya ada ratusan ribu karyawan yang diPHK maupun dirumahkan tampa gaji akibat perekonomian lesu di segala sektor.

Mereka yang tak bekerja itu, banyak yang masih tinggal di rumah kontrakan, jamak diantaranya yang tidak memiliki tabungan yang cukup. Alih-alih memiliki tabungan, justru tak dipungkiri banyak yang tengah terbelit hutang. Sebab, memang begitu budaya kita. Berhutang dulu baru mikir, sudahlah hujan baru mencari payung. Bukan sedia payung sebelum hujan, bukan ingat-ingat sebelum kena, tidak menyisihkan tabungan untuk masa darurat.

Diantara mereka ini, belum tentu semuanya bisa terdata dan memiliki kemampuan untuk memviralkan diri atau berkesempatan diviralkan orang lain.

Pers juga jangan melulu mengangkat soal penderitaan Ojol, sebab masih banyak saudara kita yang lain yang juga tak kalah menderitanya.

Semua pihak harus aktif dan saling bersimpati, antar tetangga satu dengan yang lain mesti saling memperhatikan. Jangan sampai ada tetangga yang kelaparan. Sebab katanya, bantuan sudah banyak yang dianggarkan. Juga sudah banyak yang didistribusikan.
Bagi yang pantas dapat namun belum beroleh, ini harus menjadi tanggungjawab kita bersama.

Selain di dalam negri, pekerja migran kita, seperti misalnya di Malaysia juga mengalami kesulitan. Di Malaysia, khususnya mereka pekerja harian yang bekerja di perkebunan atau sektor informal lain, sekarang lagi terkatung-katung.
Malaysia sudah memberlakukan lockdown sejak 18 Maret lalu, dan diperpanjang lagi hingga 28 April mendatang. Kondisi itu membuat para pekerja harian kehabisan uang dan kekurangan bahan makanan.

Parahnya, ada yang sampai memakan ubi dan tikus untuk bertahan hidup.
Hal itu dibenarkan oleh Hardjito pengurus Aliansi Ormas Indonesia di Malaysia (AOMI) yang saya hubungi tadi sore.
“Ada ribuan bahkan  puluhan ribu warga kita pekerja harian yang terkatung-katung di sini,” kata Hardjito melalui panggilan Whatsap, Rabu (15/4).

Dia sangat berharap pemerintah bisa membantu para pekerja migran tersebut.

“Yang kita butuhkan saat ini kalau bisa kami berharap pemerintah memberi bantuan tunai.
Atau bantu pulangkan ke daerah asal dengan pesawat militer atau apa saja yang bisa membawa mereka pulang. Jika tidak akan terjadi krisis kemanusiaan global,” katanya lagi.
*
Mari kita semua mensupport pemerintah dan membantu dengan apa saja yang kita bisa. Diam dirumah itu juga membantu, tidak berkomentar negatif disosmed dan tidak menyebar informasi hoaks juga termasuk membantu.

Perhari ini, di negara kita, berdasarkan data gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, terdapat  5.136 orang positif Corona, 446 dinyatakan sembuh, dan 469 meninggal dunia.

Mari berdo’a, untuk seluruh saudara kita yang gugur maupun yang tengah berjuang.  Utamanya untuk negara kita tercinta ini agar lekas terbebas dari bala Covid-19.

Batam, 15 April 2020

Pos terkait