0
1 share

Tuk Palo berjalan dengan langkah yang berat. Fikirannya berkecamuk. Ia terus menelusuri jalan setapak itu. Suara jangkrik dan belalang malam terdengar bersahutan dari kiri dan kanan menemani derap langkahnya. Dengan berbekal senter baterai, kain sarung, dan serantang makan malam, dia menelusuri jalan lengang itu langkah demi langkah. Perlahan ia meninggalkan perkampungan.

Malam memang baru saja datang. Di ufuk langit terlihat bulan sabit menampakkan sebagian badannya, sebagian lagi tertutup awan hitam. Di Kampung Duku, masih terdengar salak anjing piaraan warga dan suara orang mengaji dari kejauhan.

Pak tua itu terus mengayuhkan langkah nya. Langkah kaki yang sudah tak kokoh lagi dimakan masa.

Sekitar dua puluh menit perjalanan sampailah dia di gubuk kecil di pinggir kebun kopi. Memang kesana tujuannya. Sejenak, ia layangkan pandangan kesekitar. Dia memandang sekilas dan menyorotkan senternya kearah hamparan petak sawah yang tampak berjenjang di lereng bukit. kemudian dibukanya gembok pintu gubuk itu. Segera dicarinya lampu minyak tanah yang sengaja disediakan di gubuk tersebut untuk penerangan.
Ditutupnya kembali pintu. Disandarkannya badannya yang kurus kering itu ke dinding Gubuk yang terbuat dari anyaman bambu.

Gubuk 4×5 meter ini biasanya digunakan Tuk Palo untuk tempat beristirahat ketika bekerja di ladang. Atau sesekali untuk menyimpan hasil panen padi dan kopi.

Ada sekitar tiga hektar sawah di lereng bukit dan sehektar kebun kopi dibawahnya. Tanah yang digarap Tuk Palo semenjak ia masih muda. Sekarang karna usia dan kesehatan yang menurun, dia tak sanggup lagi bekerja berat. Diupahkannya orang untuk menggarap sawah dan ladang ini. Lokasi tanah ini sendiri berada tidak jauh dari perkampungan dan rumah Tuk Palo.

Lampu minyak menyala temaram.
Tuk Palo nampak merenung. Berbagai bayangan muncul di kepalanya. Sesekali batuk nya kambuh tingkah meningkah. memang begini penyakit yang telah dideritanya sejak dua tahun lalu. Tampak sesak dadanya. Setelah mereda batuknya, Tuk Palo terlihat amat gusar. Raut mukanya muram.

Terngiang ingatan Tuk Palo pada mendiang istrinya yang telah berpulang dua minggu yang lalu. Masih lagi merah tanah pusaranya. Terkenang dia Betapa mereka telah membangun keluarga puluhan tahun dengan ragam suka dan duka. Betapa tiada cacat celanya pelayanan wanita itu terhadapnya ketika dia masih hidup. Berjuta-juta kenangan hidup kembali dalam fikiran Tuk Palo. Dia menitikkan air mata. Jika saja tidak ingat akan ajaran agama, tentu ia hendak juga dengan cepat mengikut istrinya tampa harus lama menderita seperti ini.

Mengelabat pula ingatan kepada Sarita, anak Angkatnya yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung sendiri.
Teringat kenangan ketika anaknya itu masih kecil. Wajahnya sedikit sumringah ketika teringat betapa lucu dan cantik nya gadis itu ketika kecil dulu. Dahulu, Tuk Palo amat memanjakan Sarita. Kemana dia pergi selalu dibawanya gadis kecil itu. Gadis nyinyir yang selalu bertanya banyak hal kepadanya.

Tuk palo, dan Istrinya memang tak memiliki anak kandung. Anak lelaki mereka meninggal ketika masih sangat kecil. Mereka pun tidak memiliki sanak saudara lagi dikampung ini. sebagian sudah meninggal. sisanya merantau dan tak pernah kembali. Sarita diasuhnya dari bayi yang ketika itu ditemukan orang di pintu pesantren kampung Duku. Kemudian diasuh oleh mereka layaknya anak sendiri.

Kini Sarita sudah bersuami dan telah memiliki dua orang anak. Satu masih kecil berumur lima bulan. Yang sulung sudah duduk di bangku sekolah dasar.

Suami Sarita masih orang kampung Duku. Dia pria yang kalem dan tak banyak bicara. Dalam penilaian Tuk Palo menantunya ini adalah orang yang berwibawa dan bertanggung jawab, Meski dia anak yatim dan dikenal pula sebagai preman kampung, namun Tuk palo menganggap dia cukup baik. Makanya disetujuinya saja saat pria ini melamar anak nya sepuluh tahun yang lalu, setelah beberapa kali ia memergoki Sarita senyum senyum sendiri saat menerima kiriman surat.

Tidak lama setelah menikah, anak dan menantu Tuk palo merantau ke kota, mereka tidak pernah pulang kampung sejak itu. Namun dua bulan yang lalu mereka pulang ke kampung halaman. Tersiar kabar keduanya ini bermasalah di kampung orang. Entah karna apa Tuk Palo tidak pernah menyinggung dan menanyakan hal itu.

Tuk Palo dan Istrinya tetap menyambut anak mereka dengan suka-cita.

Sarita tinggal menumpang dirumah Tuk Palo.
Seiring waktu berlalu, semuanya berjalan baik-baik saja. Dua orang tua itu merasakan hari-harinya hidup kembali karna kehadiran anak dan cucunya.
Menantunya bersikap baik terhadap keduanya, pekerjaan orang tua itupun cukup terbantu karna kehadiran dua anak muda tersebut.

‘Malang sekejap mata, mujur sepanjang hari.’
Sebulan setelahnya, Istri Tuk Palo Jatuh Sakit. Sakit yang aneh. Dan terakhir dua minggu yang lalu dia muntah darah dan meninggal sebelum sempat di bawa ke Puskesmas.
Mereka semua berkabung.
***

‘Sudah Jatuh tertimpa tangga pula’ demikian kiranya yang dirasakan Tuk Palo saat ini. Hal yang tak disangka-sangka.
Tiga hari yang lalu anaknya menyinggung soal warisan.
Bagai disambar petir disiang bolong mendengar kata-kata anak kesayangannya itu. Sarita mau semua tanah dan ladang adalah atas namanya. Sebagian hendak akan dia jual untuk keperluan membayar hutang di kota. Sedangkan Hasil kebun sisanya sepenuhnya untuk dia , diluar kebutuhan makan Tuk Palo.
“Bapak sudah tua, janganlah lagi memikirkan harta. Biar saya saja yang mengurus semuanya.” Ujar Sarita.

“Tentu semuanya untuk mu” kata tuk palo, “Namun selagi aku masih hidup Seperempat hasil ladang ini aku sedekahkan kepada pesantren. Karna hanya inilah amal yang dapat aku perbuat di usia tua ku ini.
Kenapa pula kau bahas soal harta sekarang, Masih merah pusara ibumu, masih lagi harum bunga di pusara itu. Aku pun masih hidup. Tak adakah perasaan mu.” Kata Tuk Palo sedikit kesal. Terumuk batinnya.

Sarita tetap bersikukuh atas keinginan nya itu dan tak menyetujui pembagian Seperempat hasil ladang tersebut.

“Nanti akan kupikirkan, sabarlah dulu,” ujar Tuk Palo.

Dalam hati, Tuk palo menduga Sarita dihasut suaminya.

Sudah dua hari tuk palo bermalam di gubuk ini. Sebab, Sarita merasa terganggu dengan batuk Tuk palo yang tak putus-putusnya sepanjang malam. Bayinya tak bisa tidur. Dengan halus dia membicarakan kepada Tuk palo. Soal ini Tuk palo maklum, ia pun sebenarnya lebih suka akan ketenangan dimalam hari.

Malam semakin larut. Tuk palo ingat akan renteng makanan yang dibawanya. Karna perutnya juga memang sudah terasa lapar.

Dibukanya renteng makanan, dan pak tua itu bersantap dengan lahapnya.
Belum habis seluruh nasinya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa amat berat. Jantungnya berdetak cepat.
Sekarang Tuk Palo menjadi tau apa sebab kematian Istrinya.**

Penulis: Ifan Tanjung, Batam, 17 Maret 2019


Like it? Share with your friends!

0
1 share

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format