Ramadhan, Corona dan Peruntungan Orang Papa

Ilustrasi: Pixtastock

Catatan Ifan Tj

Ramadhan di tahun ini terasa berbeda.
Hal ini tidak lain karena hantaman wabah Virus Corona yang tengah melanda negeri kita, juga dunia.
Sholat Taraweh ditiadakan, Sholat Jum’at juga dialpakan demi menghindari kerumunan orang dan menekan angka penyebaran  Covid-19 tersebut.

Bacaan Lainnya

Suara Azan Isya kini mengundang pilu.
Banyak orang yang ingin sekali menunaikan ibadah taraweh yang hanya bisa didapati sebulan dalam setahun, namun mereka paranoid dan khawatir kalau-kalau ada jama’ah lain yang tampa disadari terinfeksi Corona, sehingga mereka mengurungkan niatnya dan lebih memilih beribadah di rumah. Hal ini juga demi mematuhi intruksi dan arahan dari MUI dan Kemenag.

Pemandangan yang lumrah kita jumpai pada sore di Bulan-bulan Puasa sebelumnya, kini juga hampir tidak ada lagi, yaitu penjual takjil yang biasanya menyebar di berbagai titik kota. Demi alasan yang sama yakni menghindari kerumunan, mereka memilih tidak mengelar dagangan takjilnya.
Padahal, biasanya inilah momen bagi mereka pedagang takjil yang rata-rata berasal dari ekonomi bawah untuk mengumpulkan laba, yang bisa digunakan untuk keperluan bulan puasa dan untuk merayakan lebaran.

Orang yang memiliki tabungan, pejabat, atau pengusaha yang usahanya masih jalan atau pekerja yang masih beroleh gaji tentu tak akan risau.

Dulu hampir semua kalangan dan profesi bisa menikmati indahnya bulan Ramadhan, semua usaha berjalan lancar. Uang berputar dengan cepat.

Namun sekarang, entah bagaimana nasibnya masyarakat golongan bawah. Pekerja yang telah dirumahkan, buruh harian yang tidak lagi mendapat job, dan sangat banyak profesi lain yang biasanya menggantungkan hidup dari upah harian yang nominalnya tidak banyak kini penghasilannya kosong melompong sama sekali.

Bayangan akan datangnya lebaran seakan terasa menyayat hati mereka.
Apa lacur, kepeng tidak ada di badan. Untuk mengumpulkan uang nyaris tidak ada jalan, karena ekonomi lumpuh hampir pada semua bidang.

Ilustrasi: Pixtastock

Belum lama ini, saya berjumpa dengan seorang kenalan yang sudah beberapa tahun belakangan bekerja serabutan. Saat saya tanyai, dia mengaku sudah seminggu lebih tidak bekerja dan tidak menghasilkan uang.
Dia memiliki empat orang anak yang masih lagi kecil. Persedian katanya, sudah berada di “tetes terakhir.” Namun beruntung, selang satu hari, dia kemudian mendapat sedikit bantuan sembako baik dari pemerintah kota, dan juga dari pihak lain.  Namun saya yakin paling lama itu hanya bertahan satu minggu untuk dikonsumsinya anak beranak. Kedepan entah bagaimana lagi.

Ini satu gambaran, dan saya yakin sangat banyak saat ini masyarakat yang semata menggantungkan hidupnya dari bantuan, karna tak lagi bisa mencari nafkah.

Terlebih saat ini, banyak yang tengah bingung, sebab untuk pulang sudah tidak diperbolehkan, sedangkan untuk bertahan juga tidak ada lagi persediaan.
Mau bagaimana lagi.  Kemungkinan terburuknya banyak yang bakal jadi tuna wisma dan kelaparan.

Di Bulan Suci ini, kita tak hanya dituntut menahan haus dan lapar, namun juga mengendalikan hawa nafsu dan menebar kebajikan. Amal ibadah yang kita lakukan di bulan yang penuh berkah ini akan diganjar pahala berkali-kali lipat.
Ini lah saatnya bagi yang merasa berkecukupan untuk berbagi dengan sesama, dengan kerabat yang kekurangan, dengan tetangga dan siapa saja yang rasanya membutuhkan.

Kemudian juga, kas masjid yang di umumkan beratus-ratus juta di banyak masjid itu cobalah untuk dimanfaatkan secara maksimal dengan membantu orang sekitar yang kekurangan. Itulah mereka tadi yang tidak ada penghasilan sama sekali dan hanya bergantung kepada bantuan. Mencari datanya tentu sangat mudah sekali, tergantung kemauan.

Hal ini telah dilakukan oleh beberapa masjid. Misalnya, masjid-masjid yang dikelola Al-Irsyad. Mereka menyalurkan sembako kepada masyarakat sekitar yang terdampak Covid-19. Sejumlah masjid lain juga telah melakukan hal yang sama. Begitu hendaknya.

Bukankah gunanya dana kas untuk operasional masjid dan juga untuk membantu ummat. Bukan untuk diendapkan dan didengung-dengungkan saja nominalnya saat akan Sholat Jum’at.

Kini, semua musti ikut andil, terutama yang memiliki kecukupan dan memiliki wewenang serta kemampuan membantu orang lain. Jangan hanya bergantung kepada pemerintah saja.

Batam 24 April 2020.

Pos terkait