Rudi Sebut Batam Siap Jadi Sentral E-Commerce, Pelaku Usaha Beri Masukan

Gebraknews.co.id, Batam – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Muhammad Rudi mengatakan, Kota Batam siap menjadi sentral perdagangan elektronik (e-commerce). Menyusul pengembangan pelabuhan Batuampar dan Bandara Hang Nadim.

Pengembangan dua kawasan itu disebut akan menjadi pintu utama atau sentral kargo e-commerce, sebagaimana rencana induk pengembangan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB) Batam, Bintan, Karimun dan Tanjungpinang (BBKT) tahun 2020-2045.

Bacaan Lainnya

“Mari dukung untuk perubahan Batam menjadi semakin baik. Batam siap menjadi sentral e-commerce,” kata Rudi dalam pers rilis yang diterima media.

Paparan Rudi tersebut mendapat tanggapan dari pelaku usaha Batam. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam Rafki Rasyid menyebutkan, sebenarnya Batam sudah sejak dulu menjadi sentra e-commerce.

“Sebenarnya Batam beberapa tahun belakangan sudah jadi sentral e commerce. Banyak sekali produk produk yang dikirim dari Batam ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari tas, sepatu, pakaian, parfum, dan berbagai barang konsumsi lainnya,” terang Rafki kepada gebraknews.co.id, Jum’at (21/5/2021).

Akan tetapi, kata Rafki, pengiriman dari Batam mulai berkurang ketika terbit PMK 199 tahun 2019 yang mengenakan pajak terhadap barang yang dikirim dari Batam ke daerah lain di Indonesia. Akibatnya banyak pelaku e-commerce yang sebelumnya berdomisili di Batam memindahkan lokasi usahanya ke daerah lain di Indonesia untuk menghindari pembayaran pajak.

Pihaknya memberi masukan kepada pemerintah apabila ingin benar-benar mengembalikan Batam sebagai sentral e-commerce.

“Jadi jika ingin mengembalikan kejayaan Batam sebagai sentra e-commerce, maka Batam harusnya dikecualikan dari pemberlakuan pajak terhadap barang konsumsi yang dijual ke daerah lain di Indonesia. Selagi barang konsumsi dari Batam masih dikenai pajak oleh pemerintah, maka barang barang e commerce yang dijual di marketplace kalah bersaing dengan produk sejenis yang dijual oleh pedagang e commerce dari daerah lain,” paparnya.

keterangan Ketua Apindo Batam itu diamini oleh Hafiz, salah seorang pelaku UMKM di Batam saat ditemui di tempat terpisah.
Hafiz merupakan pedagang tas, sepatu dan aksesoris.
Kepada gebraknews.co.id Hafiz mengakui, belakangan dia mengalami kesulitan mencari barang, lantaran toko langanannya pindah ke luar Batam.

“Kita sulit mencari barang sekarang. Toko grosir langganan banyak tutup dan pindah ke luar Batam,” katanya.

Disamping sulit mencari barang, Hafiz yang juga berjualan online terpaksa harus membatasi penjualannya untuk luar Batam karena pajak yang memberatkan.
“Kita tidak menjual ke luar Batam karna pembeli diberatkan oleh pajaknya. Barang murah saja pajaknya bisa 30 hingga 50 ribu. Siapa yang mau beli,” pungkas Hafiz.

Dia berharap pemberlakuan pajak tersebut ditinjau ulang oleh pemerintah agar umkm di Batam tidak mati satu per satu.

*Kendati demikian, semangat Walikota ex-officio Kepala BP Batam itu tetap diapresiasi oleh Ketua Ketua Apindo Batam.

“Kita sangat mengapresiasi keinginan dari Pak Rudi untuk menjadikan Batam sebagai sentra e commerce. Untuk fasilitas teknologi informasi memang kita lebih baik dibandingkan daerah lain di Indonesia. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang gencar dilakukan beberapa tahun belakangan telah membuat Batam memiliki jaringan telekomunikasi yang unggul dibandingkan dengan daerah lain,” tutup Rafki.

Pos terkait