Secara Budaya Labuhanbatu Nyaris Tanpa Identitas, Drs Rizal Al Mursyid: Pakaian Adat Tidak Lagi Diproduksi

Gebraknews.co.id, Labuhanbatu – Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang memiliki berbagai etnis dan budaya sebagai ciri khas setiap daerahnya. Satu diantara keragaman budaya di Indonesia, yang menarik perhatian bangsa-bangsa didunia, yaitu pakaian adat.

Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pakaian adat adalah pakaian resmi khas suatu daerah. Baju adat merupakan satu di antara identitas etnis atau suku tertentu di Indonesia.

Selain menjadi ciri khas suatu daerah, pakaian adat juga biasa digunakan dalam upacara-upacara budaya, contohnya saat acara pernikahan atau pertunjukan kesenian.

Keunikan budaya seperti pakaian adat yang ada di Indonesia tersebut, terkadang juga menjadi daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri.

Pakaian adat Indonesia menjadi simbol tiap-tiap daerah di tanah air. Masing-masing provinsi mempunya ciri khas baju tradisional yang melambangkan keunikan daerah.

Corak dan warna pakaian adat di Indonesia pun beragam, mulai kombinasi warna cerah serta warna-warna yang cenderung kalem. Demikian juga halnya dengan Labuhanbatu, sebagai salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

Sebagai salah satu daerah kabupaten, Labuhanbatu dihuni berbagai etnis yang ada di Indonesia. Sebut saja etnis Melayu, Jawa, Batak, Minang, Aceh bahkan disini juga ada etnis Tionghoa. Dalam berbagai kegiatan, masing-masing etnis selalu menampilkan adat dan budayanya masing-masing. Baik itu pada kegiatan kesenian, pernikahan dan lain sebagainya.

Namun sayangnya, sebagai satu daerah yang termasuk dalam kelompok etnis Melayu, Labuhanbatu seakan-akan tidak atau belum memiliki pakaian resmi khas suatu daerah. Yang disebut sebagai pakaian adat. Sehingga, seolah-olah Labuhanbatu nyaris tanpa identitas.

Padahal pada tahun 1992, DPRD Labuhanbatu sudah menelorkan Keputusan, tentang Kain Songket Labuhanbatu. Didalam Keputusan bernomor : 3 tahun 1992 tanggal 24 Juni 1992, telah ditetapkan kain songket Labuhanbatu bernama / motif pilar.

Terkait akan hal ini, salah seorang pengamat / pemerhati budaya melayu Labuhanbatu, Drs Rizal Al Mursyid menyebutkan, kalau ditanya sekarang apakah masih diproduk kain songket Labuhanbatu ? Jawabnya, masih diproduksi.

Tetapi lanjutnya, kalau ditanya apakah sekarang masih diproduksi kain  adat motif “pilar”,  seperti dimaksud Keputusan DPRD Labuhanbatu ? Jawabnya, perajin songket yang ada di Labuhanbatu sekarang ini,  tidak lagi memroduksi kain adat motip pilar tersebut. Artinya kain songket motip pilar, sekarang sudah hilang dari peredarannya.

Dalam kaitan ini, Rizal sebagai pencipta motif pilar pada songket Daerah Labuhanbatu tersebut, menyebutkan sebenarnya Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Daerah Labuhanbatu, sangat ditunggu peranannya untuk “membangkit batang terendam” kain songket sebagai pakaian adat Labuhanbatu.

Dia berharap, dibawah pimpinan Bupati dr H Erik Adteada Ritonga MKM dan Wakil Bupati hj Ellya Rosa Siregar SPd MM, dapat menghidupkan kembali nilai-nilai adat dan budaya yang tercermin pada kerajinan masyarakat daerah kita ini.

Hal senada, juga disampaikan salah wartawan senior didaerah ini, yang juga aktif sebagai pemerhati adat dan budaya melayu didaerah ini, drs H Khauruddin Marpaung. Menurut Marpaung, sebaiknya bupati dan wakil bupati, kembali menggairahkan kerajinan songket dan batik, seperti yang ada dalam Keoutusan DPRD Labuhanbatu. Apalagi motif songket dan batik Labuhanbatu itu, bersesuaian pula dengan kondisi daerah ini, yang menghasilkan karet dan kelapa sawit. (Yasmir)

Pos terkait