Secercah Harapan Warga Hinterland

Gebraknews.co.id, Batam – Matahari hampir meninggi tatkala wartawan gebraknews.co.id memulai perjalanan dari Batam Center menuju Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (10/10/20).

Dengan mengendarai sepeda motor berkecepatan sedang, awak media sampai di jembatan satu Barelang menjelang tengah hari. Kemudian melintasi jembatan rancangan mendiang BJ. Habibie yang menghubungkan lima pulau kecil di Kecamatan Rempang dan Galang itu, dari jembatan satu hingga jembatan empat.

Bacaan Lainnya

Dari jembatan empat, lantas menempuh perjalanan sekira 16 Kilometer, kemudian gebraknews.co.id sengaja berbelok kiri masuk ke gerbang Kampung Monggak Kelurahan Rempang Cate.

Dari pertama menginjakan sepeda motor di pintu Kampung Monggak, sudah disambut oleh jalanan berlumpur. Jalanan licin dan berlumpur ini berkali-kali nyaris membuat sepeda motor yang dikendarai wartawan mencium tanah.

Memang akses jalan aspal belum sepenuhnya masuk ke kampung ini. Namun di sepanjang perjalanan, di sebelah kiri jalan telah berdiri tegak tiang listrik yang dilewati kabel Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dari bright PLN Batam.

Setelah bertungkus lumus menempuh perjalanan dengan kontur jalan tanah berlumpur sekitar setengah jam, sampailah di jalanan beraspal yang ujungnya tembus ke pemukiman masyarakat Kampung Monggak.
Tiang listrik PLN ternyata sudah sampai ke perkampungan masyarakat. Hanya penarikan kabel jaringan saja yang belum sepenuhnya rampung.

Ridwan Effendi, staff penghubung bright PLN Batam wilayah Batuaji mengatakan, memang saat ini tengah berlangsung pengerjaan jaringan oleh bright PLN Batam.

“Di Kampung Monggak sedang inprogress pengerjaan JTM (Jaringan Tegangan Menengah),” kata Ridwan saat dihubungi.

Sampai di Kampung Monggak, suasana tenang khas perkampungan menyeruak. Gebraknews.co.id mengunjungi kediaman Pak Timo tokoh masyarakat setempat. Beliau menyambut kedatangan wartawan dengan ramah.

Pak Timo, tokoh masyarakat Kampung Monggak

Di Kampung Monggak terdapat dua RT dan satu RW yang terdiri dari 122 Kepala Keluarga.
“Hampir 90 persen ekonomi masyarakat di sini nelayan,” kata Pak Timo.

Raut kegembiraan tampak dari muka Pak Timo saat menceritakan bahwa sebentar lagi kampungnya bakal dialiri listrik PLN.

“Alhamdulillah, sebentar lagi kampung kami dialiri listrik PLN,” kata Pak Timo yang juga merupakan Ketua RT setempat.

Biasanya, kata orangtua itu, warga Kampung Monggak hanya bisa menikmati listrik mulai saat magrib hingga menjelang tengah malam saja melalui arus genset. Untuk bisa memakai listrik itu, warga membayar Rp 7 ribu setiap malam atau Rp 210 ribu sebulan.

Dengan masuknya listrik bright PLN, Pak Timo berharap dapat memberi dampak positif bagi aktifitas dan perekonomian masyarakat Kampung Monggak.

“Semoga dengan masuknya listrik memberi dampak positif kepada perekonomian dan aktifitas warga. Kami dari warga mengucapkan terimakasih kepada pemerintah dan PLN khususnya,” ujar Pak Timo.

Hampir 5 Kilometer jalur baru yang dilewati jaringan listrik. Bila dihitung dari jumlah rumah di sana dan besar modal yang mesti dikeluarkan PLN Batam, rasanya butuh waktu cukup lama bagi perusahaan penyedia listrik itu untuk sekedar balik modal.

bright PLN memiliki pertimbangan sendiri, yakni demi kepentingan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Melalui Corporate Secretary Kishartanto Purnomo Putro, bright PLN Batam menjelaskan, saat ini, listrik menjadi kebutuhan dasar manusia. Tanpa listrik takada peradaban modern, listrik adalah pembuka jalan menuju peradaban modern. Tanpa listrik pembangunan tidak akan berjalan dengan baik.

“Oleh karena itu, bright PLN Batam akan menjalankan amanah ini dengan memastikan bahwa listrik dapat menjangkau daerah-daerah hinterland yang belum teraliri listrik hingga hari ini,” papar Kishartanto.

bright PLN Batam bersama-sama seluruh stakholeder, kata Kishartanto, selalu berupaya menyelesaikan percepatan untuk melistriki daerah hinterland. Sehingga rasio elektrifikasi Kepri 100% terlaliri listrik dapat terwujud.
Pada tahun 2020 ini Monggak menjadi salah satu desa yang akan tersambung listrik mengunakan trafo berkapasitas 250 kVa dan panjang jaringan 5 KMS. Dengan kapasitas tersebut kurang lebih 150 warga Monggak akhir tahun ini dapat menikmati listrik dengan layak.

Dalam beberapa tahun ke depan, bright PLN Batam juga akan melistriki beberapa desa di Rempang-Galang.

“Untuk akhir 2020 ini bright PLN Batam fokuskan ke Monggak terlebih dahulu, kedepannya ada desa Pasir Panjang, Air Naga hingga ke Cakang di ujung jembatan 6,” terang Kishartanto.

Pihaknya menyebut, bright PLN selalu berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan terbaik serta keandalan pasokan listrik bagi masyarakat Batam khususnya dan masyarakat Kepri pada umumnya. Terutama bagi masyarakat sekitar hinterland yang mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan, listrik sangat penting untuk meningkatkan perekonomian warga.

“Hal ini juga sesuai dengan slogan bright PLN Batam Merangkai Pulau dengan Listrik,” pungkasnya.
*
Kendati listrik PLN sudah akan mengaliri rumah warga, namun ada satu lagi yang menjadi keluhan warga Kampung Monggak yakni, akses jalan yang belum sepenuhnya tersentuh aspal. Ketika hujan, warga terpaksa melintasi jalan berlumpur yang di beberapa titik menjadi genangan air.

Pak Timo mengatakan, sejauh ini baru sekitar 2 Kilometer dari total jalan utama ke kampung itu yang sudah diaspal.
“Pada tahun 2016 diaspal 1 Kilometer jalan yang dekat dari pemukiman kami. Disambung lagi 1 Kilometer pada tahun 2018 kemaren. Jadinya jalan aspal hanya dekat pemukiman ini. Kesananya hingga jalan raya masih jalan tanah yang becek ketika hujan,” terang Pak Timo.

Warga Kampung Monggak, tambahnya, sangat berharap akses jalan bisa diperbaiki. Selain untuk memperlancar aktifitas warga juga untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang rata-rata berpendapatan rendah.

“Kami warga hanya bisa pasrah. Beberapa kali juga telah kami ajukan untuk perbaikan jalan. Sampai sekarang kami masih menunggu,” terang orangtua itu.

Pak Timo yakin, jika jalan diperbaiki, nilai jual ikan warga yang umumnya berprofesi sebagai nelayan itu bisa lebih tinggi.
“Dengan susahnya akses masuk dan keluar akan memperlama proses pengantaran ikan,” tukuknya.

Karna akses jalan, Kampung Monggak sangat jarang dikunjungi orang luar. Padahal menurut Pak Timo, potensi ikan segar dan wisata berbasis kearifan lokal sangat besar potensinya untuk dikembangkan.

“Banyak potensi yang bisa dikembangkan jika jalan ke Kampung Monggak lancar. Bisa menjual ikan, restoran kelong, atau menyediakan kapal untuk pemancing,” ujarnya.

Di sisa usianya, Pak Timo ingin melihat perubahan dari kampung kelahirannya itu.
“Entah saya masih bisa menyaksikan kemajuan kampung ini di masa akan datang entah tidak. Yang pasti saya berdoa untuk terus diberi umur panjang,” kata pria 64 tahun itu.

Bila listrik yang pengerjaan jaringannya hampir rampung itu sudah masuk, dan akses jalan telah pula lancar, tentu secercah harapan warga Kampung Monggak untuk meningkatkan taraf hidup akan berangsur terpenuhi.

Dari Kampung Monggak, Kelurahan Rempang Cate, awak media memacu kendaraan ke Kelurahan Sijantung yang letaknya berdekatan dengan Kampung Vietnam. Tidak jauh dari jembatan 5 Barelang.

Di Sijantung, suasana terlihat amat berbeda. Jalan sudah beraspal mulus, listrik PLN telah mengalir 24 jam.

Dari pinggir jalan terlihat sejumlah warga tengah asyik menonton TV di rumah mereka. Dari warung-warung pinggir jalan, suara musik sayup-sayup terdengar mengalun. Daerah ini terlihat sangat hidup.

Telah dua tahun listrik dari bright PLN mengaliri Sijantung, Terasa kentara perubahan kehidupan masyarakatnya.
Dari yang awalnya hanya bisa menikmati listrik sebentar di malam hari. Kini listrik tak henti-hentinya mengaliri rumah-rumah warga.
Pada penghujung 2019 kemaren, bright PLN meresmikan Kampung Sijantung sebagai kampung binaan.

Berbagai fasilitas dan kegiatan positif dicanangkan oleh bright PLN Batam di Sijantung, mulai dari penanaman pohon, pembuatan wisata Hutan Mangrove, dan Pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan Budaya khas Sijantung.

Jali, salah seorang Ketua RT di Sijantung mengungkapkan betapa terbantunya warga dengan kehadiran bright PLN.

“Secara ekonomi masyarakat sangat terbantu. Dengan keberadaan listrik, aktifitas banyak tertolong, juga ada hiburan untuk masyarakat setelah letih bekerja, seperti menonton televisi. Pastinya jauh perbedaan dari dulu sebelum masuknya listrik PLN. Dulu hanya malam hari saja kita bisa memakai listrik yang sumbernya dari genset,” kata Jali yang berdarah Buton Melayu ini.

Kampung Sijantung menjadi satu contoh betapa infrastruktur jalan dan akses listrik menjadi suatu kebutuhan penting bagi kelancaran aktifitas dan ekonomi masyarakat hinterland.

(Ifan)

Pos terkait