Serunya Kemping di Puncak Beliung Tanjung Riau

Catatan Ifan Tanjung

Adakalanya riuh-rendah suasana kota dan aktifitas pekerjaan sehari-hari membuat kita jenuh. Terlebih bagi yang barmastautin di Kota Industri Batam. Kebisingan dan tekanan pekerjaan kadang membikin urat saraf jadi tegang.
Ketegangan urat syaraf itu perlu dilenturkan kembali. Salah satu upayanya dengan jalan meluangkan waktu untuk berekreasi.

Bacaan Lainnya

Bila anda ingin rekreasi lebih berkesan, cobalah pertimbangkan untuk berkemah di alam terbuka.
Diantara sejumlah lokasi yang epik, ada satu tempat menarik untuk berkemah bagi masyarakat Kota Batam, yakni Puncak Beliung yang terletak di Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang.

Saya menghabiskan malam di tempat ini pada libur panjang awal April kemarin setelah mendapat kiriman foto dari sahabat saya Mas Nunung Sulistyanto seorang penggiat wisata dan pecinta alam kawakan Kota Batam yang mengabadikan momen kegiatannya saat tengah berkemah bersama keluarga. Dari potret itu saya melihat tempatnya cukup menarik.

Maka, bersama dua orang kawan, Adian dan Masdion (masnya tidak dipisah) kami bulatkan rencana untuk kemping di Puncak Beliung.

Kami berkemah Sabtu Malam (4/4/2021).  Lokasi ini dikelola oleh Mas Rudi dan kawan-kawan. Mas Rudi seorang penggiat wisata yang telah merintis beberapa lokasi wisata baru di Batam. Untuk kemping di Puncak Beliung, Mas Rudi menyiagakan beberapa orang rekannya untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung.

Setelah berjalan kaki mendaki Bukit yang cukup menguras tenaga, sampailah kami di Puncak Beliung.
Suasana hening menyambut kami. Saat berada di puncak, bila dilayangkan pandangan ke arah utara akan keliatan kerlap-kerlip lampu kendaraan dan lampu rumah, sebuah pemandangan yang sangat indah. Beberapa kecamatan seperti Sekupang, Lubuk Baja dan Batuaji tampak dari sini.
Bahkan jika melihat sebelah barat atau timur laut, kita akan disuguhkan pemandangan lampu-lampu dari negeri jiran Singapura. Itu jika cuaca bagus.

Sodik, penjaga lokasi Puncak Beliung dan dua orang rekannya sempat menemani kami berbincang bincang.
Kata Sodik, Puncak Beliung juga menyediakan layanan penuh bagi pengunjung yang ingin berkemah. Layanan ini berupa penyediaan fasilitas tenda atau peralatan kemping lengkap, fasilitas keamanan pastinya, dan pengelola yang siap sedia membantu membelikan kebutuhan pengunjung di malam hari apabila diperlukan. Tentu dengan tetap menjaga ketenangan pengunjung.
“Kami memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pengunjung. Bisa datang bawa badan saja, dan peralatan kami menyediakan lengkap dengan biaya terjangkau,” tuturnya.

Tak Afdal rasanya kemping tanpa menyalakan api unggun. Dengan memperhatikan keamanan pepohonan di sekitar, yakni dengan memilih tempat yang luang, api kami nyalakan.

Di tengah nyala api itu pikiran saya melayang ke puncak Marapi dan Singgalang, terkenang betapa dua gunung itu dulu mengajarkan saya dekatnya antara hidup dan kematian.

Kami semua sejenak tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Api yang melahap kayu bakar mengingatkan saya dengan satu falsafah lama, “Bersilang kayu di tungku/pemanggangan di situ api maka hidup. Menyiratkan tentang musyawarah, demokrasi, tentang berbeda pendapat yang dihimpun untuk menguatkan suatu keputusan.

Sembari menghangatkan badan kami kemudian menyantap makan malam, yang kemudian disambung dengan kopi.

Suara pungguk terdengar tingkah meningkah.
Bulan yang dia rindukan sudah lenyap pada penghujung maret lalu.  Hanya tinggal gemintang, itu pun kini telah disembunyikan oleh awan hitam.  Awan hitam rupanya tidak hanya melenyapkan bintang, tetapi dengan cepat berkoalensi menjadi rintik-rintik kecil hujan.
Untungnya tenda sudah digelar.

Tak seru jika kemping tak ada tantangan,” kata kawan saya Masdion.  Hal itu diamini oleh Adian yang kemudian tergopoh-gopoh membetulkan tendanya. Tendanya yang patah tulang kemudian berubah menjadi kolam air. Untung tidak menjadi layang-layang karena angin cukup kuat.

Kami akhirnya mendapat posisi aman untuk meletakkan tenda. Kendati hujan, saya dan sepertinya juga kawan-kawan dapat menikmati suasana tenang bercengkrama dengan alam.
Rintik-rintik hujan kadang seperti irama lagu. Berharmoni dengan suara ranting pohon diterpa angin serta suara binatang malam.

Yang ditunggu adalah pagi harinya untuk menyaksikan matahari terbit.
Namun ternyata kami belum beruntung sebab langit pagi masih berawan diselingi gerimis kecil.
Meski begitu, suasana tenang dan menyejukkan tidak akan tergantikan.**

Pos terkait