Oleh: Cheny Rizky Anny Sirait & Shandra Hannan.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia.
Pemimpin hadir bukan hanya sekedar untuk memimpin, melainkan juga hadir untuk memberikan dampak kepada masyarakat. William G. Scoot (1962) mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses seorang pemimpin mempengaruhi kegiatan dalam kelompok demi mencapai tujuan bersama. Masyarakat di Maluku Utara maupun di Jawa Barat terus merindukan pemimpin yang dapat memberikan perubahan, manfaat, dan pelayanan publik yang membawa pada kesetaraan, namun tidak bersifat monoton dan terjerat akan kebiasaan birokrasi yang cenderung kaku. Karena itu, perlu adanya transformasi terhadap sistem kepemimpinan yang tidak kaku namun tidak menghilangkan profesionalitas seorang pemimpin. Salah satu model kepemimpinan yang dianggap mampu menjawab kebutuhan tersebut adalah kepemimpinan transformasional. Bass (1998) menyebutkan secara detail bahwa kepemimpinan transformasional adalah seorang pemimpin yang mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu. Kepemimpinan tipe ini sangat kental akan karakteristik idealized influence, inspirational motivation, intellectual simulation, dan individualized consideration dimana seorang pemimpin memiliki karakter untuk “menyihir” dan mendorong pengikut agar terpengaruh terhadap keputusan pemimpin serta memberikan dorongan motivasi bagi bawahannya untuk mencapai standar yang telah ditetapkan pemimpin.
Sebagai pemimpin bagi daerah masing-masing, tentu Sherly Tjoanda dan Dedi Mulyadi memiliki gaya kepemimpinan yang menjadi ciri khas mereka dalam memberikan transformasi bagi masyarakat di daerah mereka. Sherly Tjoanda atau akrab dikenal Sherly Laos resmi menjadi gubernur perempuan pertama di provinsi yang dikenal dengan budaya patriarki yang kuat, Maluku Utara, periode 2025-2030 pada Februari 2025. Dilansir dari Kompas.com, sebelum menjabat sebagai gubernur, ibu Sherly pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Maluku Utara. Sedangkan Dedi Mulyadi yang lebih sering dipanggil Kang Dedi, memulai kiprahnya dalam dunia politik dengan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purwakarta dan kemudian menjadi Wakil Bupati Purwakarta dan Bupati Purwakarta, sebelum akhirnya saat ini menjabat sebagai Gubernur terpilih di Provinsi Jawa Barat. Dua pemimpin ini memiliki gaya yang unik dibanding dengan pemimpin provinsi lainnya. Dengan memanfaatkan transformasi digital, khususnya media sosial, mereka memperluas pengaruh yang diberikan sebagai wujud kepemimpinan transformasional.
Berdasarkan karakteristik kepemimpinan transformasional yang diungkapkan oleh Bass dan Avolio (2010), karakteristik kepemimpinan yang paling dominan dari gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda adalah idealized influence, yakni kemampuannya menjadi figur teladan yang mematahkan batas sosial berbasis gender di wilayah Maluku Utara, daerah yang selama ini dikenal memiliki budaya patriarki yang kuat dan menumbuhkan kepercayaan publik melalui ketegasan, keberanian, dan integritasnya. Posisinya sebagai gubernur bukan sekadar figur pengganti suami, melainkan buah dari kapasitas dan keteguhan pribadinya.
Keberhasilannya melampaui stigma gender menunjukkan bahwa ia bukan hanya memimpin melalui jabatan, tetapi melalui keteladanan moral dan karakter. Dalam logika Bass & Avolio, idealized influence mengacu pada kemampuan pemimpin membangun rasa hormat dan kepercayaan diri melalui nilai, keberanian mengambil risiko, dan citra pemimpin yang dikagumi, sehingga kualitas ini sesuai dengan cara Sherly Tjoanda hadir sebagai role model yang menginspirasi secara sosial maupun politis.
Di samping itu, Sherly Tjoanda juga menunjukkan karakter inspirational motivation, terutama melalui visinya mengenai pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir yang ia komunikasikan sebagai komitmen jangka panjang. Komunikasi publiknya yang energik serta keterlibatan langsung dalam berbagai program sosial memberi pesan bahwa perubahan bukan sekadar janji politik, tetapi upaya nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Ia mendorong narasi bahwa Maluku Utara dapat maju untuk menjadi setara dengan provinsi lainnya, dan narasi ini memberi energi kolektif bagi publik untuk percaya bahwa transformasi mungkin dilakukan. Karakter individualized consideration juga tampak dari kesediaannya turun langsung ke lapangan, berdialog dengan warga, mendengar keluh kesah serta merespons persoalan dengan mengedepankan empati dan pendekatan humanis. Kedekatan personal ini menjadi cara ia memahami kebutuhan masyarakat secara mikro. Selain ketiga dimensi tersebut, juga tampak karakteristik intellectual stimulation melalui gagasannya mengenai inovasi pendidikan, pemberdayaan ekonomi lokal, serta tata kelola pemerintahan yang lebih progresif dan menentang pola lama birokrasi.
Jika Sherly Tjoanda merepresentasikan kepemimpinan transformasional melalui keteladanan dan keberanian moral, maka Dedi Mulyadi menghadirkan bentuk transformasi lain yang lebih membumi melalui kedekatan sosial. Gubernur Jawa Barat ini berdiri sebagai pemimpin transformatif dengan karakteristik individualized consideration yang paling kuat, yaitu pemimpin yang dekat, merakyat, dan empatik dengan kemampuan dan kecenderungan untuk hadir secara personal, dekat dengan masyarakat, serta merespons kebutuhan mereka secara langsung dan manusiawi. Melalui media sosialnya, masyarakat dapat melihat bagaimana ia tampil sederhana dan menyapa rakyat kecil tanpa protokoler berlebihan, memperlihatkan dirinya sebagai orang biasa yang merakyat melalui turun langsung ke lapangan seperti menyapa pedagang kecil, membantu warga yang kesulitan, atau berjalan di tengah pasar. Model kepemimpinan ini membangun kedekatan emosional dan empati publik, dan memungkinkan masyarakat merasa bahwa mereka dilihat dan didengar, bukan sekadar dipimpin dari jauh.
Selain itu, Dedi Mulyadi juga menunjukkan karakter idealized influence melalui konsistensinya menjaga nilai-nilai budaya Sunda sebagai identitas publik seperti kerap menggunakan atribut budaya lokal seperti iket Sunda. Ia menekankan pentingnya nilai budaya khususnya budaya Sunda sebagai fondasi tata kelola pemerintahan dan pembangunan sosial. Karakteristik inspirational motivation juga dapat kita lihat melalui narasi bahwa pembangunan tidak boleh terlepas dari nilai kemanusiaan, warisan kultural, dan nilai komunalisme.
Dengan demikian, kepemimpinan Dedi tidak hanya membangun struktur, tetapi juga membangun kebanggaan kolektif dan memperkuat ikatan masyarakat terhadap nilai-nilai lokal. Sedangkan karakter intellectual stimulation tampak kurang dalam diri Dedi Mulyadi. Pola kepemimpinan Dedi lebih banyak terepresentasi melalui aksi-aksi human interest yang bersifat langsung dan spontan, bukan melalui pembaruan struktural atau ide-ide konseptual yang mendorong cara pikir baru. Narasi digitalnya, terutama yang tampak melalui konten-konten viral di platform seperti TikTok, lebih menonjolkan kedekatan emosional, humor, dan nilai budaya dibandingkan pemaparan gagasan strategis yang bersifat intelektual atau analitis. Dengan kata lain, transformasi yang ia hadirkan bergerak pada ranah sosial dan kultural, bukan pada ranah inovasi intelektual atau perubahan paradigma birokrasi.
Kepemimpinan transformasional pada praktiknya dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan hal itu tercermin melalui gaya kepemimpinan Sherly Tjoanda dan Dedi Mulyadi yang menghadirkan dua wajah kepemimpinan transformasional yang sama-sama relevan namun melalui jalur yang berbeda.
Sherly Tjoanda menghadirkan transformasi melalui keteladanan, keberanian, dan visi perubahan yang mematahkan batas-batas sosial, yang kemudian menjadikannya simbol pemimpin perempuan yang progresif.
Sementara itu, Dedi Mulyadi menghadirkan transformasi melalui kedekatan sosial, empati budaya, dan perhatian individual yang membuat masyarakat merasa dekat dan dihargai. Keduanya memanfaatkan ruang digital sebagai medium pengaruh, tetapi karakter inti kepemimpinannya tidak bergantung pada popularitas semata, melainkan pada nilai yang mereka usung.
Keduanya kemudian menjawab kebutuhan publik terhadap pemimpin yang autentik, komunikatif, dan hadir secara nyata baik melalui digital maupun interaksi langsung. Model kepemimpinan mereka menunjukkan bahwa transformasi tidak harus selalu radikal. Ia dapat tumbuh dari nilai, kedekatan, simbol, maupun inovasi sosial yang dibangun perlahan namun konsisten.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa teori Bass & Avolio tidak hanya relevan di ruang akademik, tetapi hidup dalam figur pemimpin yang mampu menggerakkan publik. Baik Sherly Tjoanda sebagai gubernur Maluku Utara maupun Dedi Mulyadi sebagai gubernur Jawa Barat, menampilkan dua wajah kepemimpinan transformasional yang berbeda namun saling melengkapi, bertumpu pada keteladanan dan visi perubahan, juga bertumpu pada empati dan kedekatan sosial.
Keduanya mengajarkan bahwa pemimpin yang efektif bukan hanya mereka yang memimpin, tetapi mereka yang mampu menggerakkan, menghubungkan diri dengan masyarakat, dan membawa arah baru bagi perubahan sosial.








