Suami Dinyatakan Hakim Bersalah, Isteri Histeris Minta Keadilan Dari Kapolri

Gebraknews.co.id, Labuhanbatu – Labuhanbatu – Suami dinyatakan hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat, Sumatera Utara, dalam sidangnya Jumat (26/11/2021), bersalah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan, sebagaimana surat dakwaan jaksa penuntut umum (jpu).

Sementara isteri “histeris” meminta keadilan atas putusan majelis hakim dalam vonisnya, kepala Kapolri selaku pimpinan terpidana terpidana selaku anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Seuai majelis hakim menutup sidang pembacaan vonis yang menyatakan terpidana Aipda GS bersalah dan menjatuhkan hukuman 1 tahun enam bulan penjara. Spontan isteri terpidana, bernama Hilda Oktara Sitanggang, langsung histeris dan tidak terima putusan, yang dianggapnya tidak sesuai dengan keadilan.

Pasalnya menurut Hilda, suaminya sama sekali tidak berbuat melakukan penipuan,  seperti yang dituduhkan. Dan menganggap, barang bukti berupa kwitansi yang dibuat dan dimunculkan si pelapor  adalah kwitansi palsu.

“Dikwitansi itu, bukan tandatangan suami saya”, ucap Hilda dalam .nada tinggi. Sembari dia menyebutkan, hal ini dikuatkan hasil laboratorium forensik Polda Sumatera Utara, menyatakan non-identik.

Dengan suara tetbata-bata, dia menyebutkan tolong Pak Kapolri, pimpinan dari suamiku. Tolong ditinjau ulang permasalahan ini.  Dimana kesalahan suamiku. Mohon yang seadil-adilnya Pak Kapolri.

Berkali–kali Hilda  meminta Kapolri untuk meninjau ulang kasus ini. Bukan itu saja, Istri terdakwa juga menceritakan, pada kwitansi tanggal pinjaman dibuat  25 Juni 2015. Sementara saat itu, suaminya, mengalami kecelakaan (lakalantas) dan sedang berobat kerumah sakit yang berada di Medan.

Histerisnya Hilda Oktara Sitanggang, mengundang perhatian warga, yang saat itu juga berada di sekitar ruang sidang Pengadilan Negeri Rantauprapat, di Jalan Sisingamangaraja Rantauprapat.

Sebelumnya, hakim ketua majelis, Harry Ferdian  didampingi hakim-hakim anggota, Hendry Tarigan dan  Khairul Riski memutus terdakwa Aipda GS dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan kurungan penjara. Dalam kasus penipuab dan penggelapan, sebagsiman dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Ditempat yang sama, M Yusuf Siregar SH MH dan rekannya, selaku kuasa hukum terpidana menyampaikan, selaku warga negara yang baik, tentunya terhadap putusan majelis hakim ini, kami tadi sudah nyatakan, kami dan terdakwa akan mengajukan upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi Sumatera Utara

”Dari putusan yang baru dibacakan hakim, kami melihat adanya pendapat dari satu atau hakim yang tidak setuju dengan keputusan yang dicapai mayoritas hakim lainnya (dissenting opinion)”, ucap M Yusuf Siregar.

Katanya, dissenting opinion tersebut, tampak ketika salah satu hakim anggota, yaitu  Hendry Tarigan berkeyakinan dan mengatakan, terdakwa tidak terbukti bersalah dan agar dibebaskan dari segala tuntutan. Menolak atas dakwaan jaksa penuntut umum, yang mana dia beranggapan saksi yang diajukan pelapor berbelit- belit dan saling bertentangan.

M Yusuf Siregar berpendapat, kami berkeyakinan, keadilan itu tidak hanya didapatkan pada pengadilan ditingkat pertama. Namun, kami berkeyakinan keadilan itu masih ada pada tingkat banding maupun kasasi nantinya”, ucap M Yusuf Siregar.

Sementara juru bicara pengadilan Negri Rantauprapat, Muhammad ALQudri kepada awak media mengatakan, kesempatan bagi terdakwa untuk mengajukan upaya hukum, apabila ada hal yang dinilai tidak terima dengan putusan majelis hakim.  “Ada hak hukumnya, misalkan mengajukan banding,” ungkap Muhammad Al Qudri. (Yasmir)

Pos terkait