Tambua dan Tansa Kesenian Musik Tradisional Khas Ranah Minang Ada di Rantauprapat

Gebraknews.co.id, Labuhanbatu – Tambua (tambur) dan tansa, merupakan alat musik tradisional kesenian  khas dari “ranah (tanah) Minang” Sumatera Barat. Sejak lama, salah satu musik tradisional berjenis perkusi ini, dikenal masyarakat di seantero Nusantara.

Tambua dan tansa, dua alat musik kesenian tradisional Minang, tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Tambua dan tansa; merupakan alat musik gendang, dimainkan bergrub. Ditabuh secara terus-menurus dalam formasi pemain terdiri dari 7 (tujuh) orang penabuh hingga 15 (lima belas) pemain.

Gendang tambua berbentuk seperti tabung, dengan bahan terbuat dari kayu serta dua permukaan kulit sapi. Gendang Tambua biasanya dimainkan dengan cara disandang di salah satu bahu pemain, dalam posisi berdiri.  Menggunakan dua pemukul tambua, semacam pemukul yang terbuat dari bahan kayu. Sedangkan tansa lebih mirip setengah bola yang hanya memiliki satu sisi terbuat dari kulit.

Biasanya, sekelompok pemain menabuh beberapa buah tambua, dipimpin seorang yang memainkan tansa, alat musik gendang tipis berbunyi nyaring ketika dipukul. Kemudian beberapa pemain, membawa tambua atau gendang berukuran besar.

Berbagai etnis di tanah air, warganya pergi dari tempat asalnya, menuju dan menetap di wilayah lain. Bermacam-macam penyebab, tujuan dan motivasi mendorong mereka pergi merantau.

Dari sekian banyak etnis itu, ada beberapa etnis yang warganya melakukan aktivitas merantau dalam jumlah sangat signifikan. Sehingga etnis tersebut bisa diklasifikasikan sebagai suku perantau.

Salah satu etnis, tergolong sebagai suku perantau tersebut, yaitu Minangkabau, dari Sumatera Barat. Hampir diseluruh daerah di Indonesia, ada warga Minang. Diantara daerah tujuan perantau tersebut, yaitu Provinsi Sumatera Utara. Relatif di 34 kota / kabupaten di Sumatera Utara, ada warga Minang. Termasuk diantarannya di Kabupaten Labuhanbatu dengan ibukotanya Rantauprapat.

Sebagai warga perantau, orang Minang mampu menyesuaikan diri dengan warga tempatan atau dengan sesama warga perantau lainnya. Itulah yang dikenal dengan semboyan “dima bumi dipijak, disinan langik dinunjuang” atau dengan pengertian lain, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Etnis Minangkabau, merupakan salah satu etnis yang ada di Indonesia, memiliki beranekaragam jenis kesenian tradisional. Salah satu jenis kesenian tradisional tersebut, seni musik “tambua dan tansa”. Konon alat musik yang satu ini, hidup dan berkembang di berbagai  daerah di Sumatera Barat. Diantaranya daerah seputaran Danau Maninjau di Kabupaten Agam.

Hampir disetiap nagari di kabupaten ini, masyarakat mengenal kesenian tambua dan tansa.  Dan menjadi kesenian tradisional favorit yang masih difungsikan, dalam berbagai kegiatan upacara baik adat dan upacara keagamaan yang dilakukan masyarakat saaf ini.

Jauh dari negeri asalnya di Ranah Minang, yaitu di Kota Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, ternyata kesenian musik tradisional, berasal dari India dan dibawa pedagang Gujarat (India) ke Tiku, Pariaman, yang dulu merupakan pelabuhan terbesar di Pantai Barat Minangkabau pada abad ke 14 Masehi tersebut, juga berkembang cukup pesat di Rantauprapat.

“Kesenian musik tradisional tambua dan tansa ini, mulai dikembangkan di Rantauprapat, sekitar tahun 1980-an. Penyebab, tujuan dan motivasi mendirikan grup tambua dan tansa ini, padamulanya untuk menyatukan generasi muda, mencintai kesenian tradisional dari Ranah Minang”, ucap Alimin mengaku sebagai pendiri grub “tambua dan tansa” Riak Danau Rantauprapat.

Dengan cara itu pula, setelah mereka mengenal dan menyenangi kesenian tradisional tambua dan tansa, menurut Alimin, kami para pendiri grub kesenian Riak Danau ini, mengajak para generasj muda, mengikuti ceramah / pengajian di Mushala At Taqwa Jalan Abdurrahman Rantauprapat, yang juga didirikan masyarakat berasal dari Nagari atau negeri Sungaj Batang, Kecamatan Tanjung Raya Agam, Sumatera Barat.

Dan itu pula sebabnya, sesuai daerah asal warga etnis Minang yang mendirikan grub tambua dan tansa ini; dengan nama Riak Danau. “Sungsi Batang itu merupakan nama salah satu nagari di sekitaran tanah Maninjau”, ucapnya.

Hal senada juga disampaikan salah seorang generasi muda Minang asal Nagari Sungai Batang, Sabri Guci. Menurut Sabri, kami bersama kawan-kawan Yul Khaidir,, Irfan Jambak dan beberapa teman lainnya, mencoba melanjutkan / mewarisi dan mengembangkan kesenian tambua dan tansa ini di Rantauprapat.

Kalau dulu, ucap Sabri, grub tambua dan tansa ini, untuk penampilannya hanya 7 orang pemain tambua dan 1 orang pemain tansa. Tapi kini, pemain grub tambua dan tansa ini bisa dumainkan 17 orang pemain tambua dan tansa. Karena jumlah alat pun kini sudab bertambab, dari 8 tambua dan tansa. Kini sudah menjadi 17 tambua dan 1 tabsa.

Selain itu, ucap Sabri, permainan musik tradisional tambua dan tansa, yang kini semakin berkembang didaerah asalnya Ranah Minang tersebut, di Rantauprapat dalam penampilan grub tambua dan tansa ini, juga sudah dikolaburasikan dengan kesenian minang lainnya, seperti seni tari, pencaksilat, tarj piring.

“Grub tambua dan tansa Riak Danau ini, dalam penampilannya selalu bersama grub tari yang diasuh bundo kandung”, ucap Sabri.

Menurut Sabri, seiring perkembangan zaman, seni musik tambua dan tansa ini, kini di Rabrauprapat, tidak saja digemari masyarakat etnis minang saja. Tetapi juga digemari etnis lainnya. Penampilan grub tambua Riak Danau Ranrauprapat, juga sudah tidak aneh lagi tampil menghibur di pesta pernikahan, sunat rasul warga etnis Jawa, Mandailing dan lain sebagainya.

Itulah sekelumit gambaran salah satu kesenian asal Minangkabau, yang kini dapat kita saksikan di Rantauprapat, Labuhanbatu, Sumatera Utara. Tambua dan tansa alat musik kesenian tradisional asal Minangkabau, kini kian berkembang diberbagai daerah di Indonesia.  Termasuk diantaranya di Rantauprapat. (Yasmir)

Pos terkait