Terapkan “Restorative Justice”, Kejaksaan Negeri Labuhanbatu Hentikan Penuntutan Perkara Penganiayaan Sesama Saudara Kandung

Gebraknews.co.id, Labuhanbatu – Terapkan “Restorative Justice”, Kejaksaan Negeri Labuhanbatu, Sumatera Utara, hentikan penuntutan perkara penganiayaan sesama saudara kandung, yang melakukan saling melapor.

Kedua saudara kandung yang saling melapor itu, masing-masing atasnama Sarwin alias Awi (adik) dan Wong Boen Tjau alias Iwan alias Abun (bang). Keduanya,  merupakan warga Kelurahan Merbau, Kecamatan Merbau, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.

Berdasarkan “Restorative Justice” tersebut, Kejaksaan Negeri Labuhanbatu Kamis, (18/11/2021) lalu, menghentikan penuntutan perkara tindak pidana penganiayaan antara sesama saudara kandung yang saling melaporkan dengan sangkaan melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP.idana.

“Tindak pidana tersebut terjadi karena adanya saling ketersinggungan pemasalahan keluarga. Sehingga masing-masing tersangka menjadi emosi dan melakukan penganiayaan”, Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu, Jefri Penanging Makaperdua SH MH melalui Kepala Seksi Intelijen, Firman Hermawan Simorangkir SH MH kepada wartawan dikantornya, Selasa (23/11/2021).

Sehingga dalam kasus ini, lanjut Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu,  pelapor juga sekalugus korban. Dalam hal ini,  Sarwin alias Awi (adik) mengalami luka di bagian kepala dan Wong Boen Tjau alias Iwan alias Abun (abang), mengalami luka di bagian paha.

Diterangkannya, penghentian penuntutan dalam perakara penganiayaan tersebut, dilakukan Jaksa Penuntut Umum berdasarkan Peraturan Kejaksaan Agung Republik Indonesia nomor 15 tahun 2020, tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif.

“Jaksa Penuntut Umum (JPU), mempertimbangkan penghentian penuntutan berdasarkan restorative justice. Karena telah ada perdamaian dan saling memaafkan antara kedua belah pihak,”ungkap Firman

Kemudian, sambung Firman, keberhasilan penghentian penuntutan tersebut, tidak terlepas dari upaya Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu Jefri Penanging Makapedua SH MH yang menginisiasi JPU bertindak selaku fasilitator, agar duduk bersama dengan penyidik dan tokoh masyarakat dalam mencapai jalan keluar (perdamaian).

“Tepat pada hari ini, Selasa (23/11/2021), melalui sarana virtual Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu bersama Kasi Pidum, Hasudungan Parlin Sidauhruk SH MH dan Jaksa Penuntut Umum yang menangani kasus tersebut, yaitu Susi Sihombing SH, Andri Rico Manurung, SH dan Rezky Syaputra, SH melakukan paparan terkait pernghentian penuntutan atas perkara penganiayaan antara sesama saudara tersebut, kepada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum”, paparnya.

Hasilnya,  Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum, menyetujui dan memberikan apresiasi kepada Kepala Kejaksaan Negeri Labuhanbatu, yang berhasil melaksanakan arahan dan petunjuk pimpinan, dalam penegakan hukum berdasarkan restorative justice.  Sehinga perkara tersebut tidak dilanjutkan ke tahap persidangan.

Kemudian, terdahap masing-masing tersangka tersebut, Sarwin alias Awi (adik) dan Wong Boen Tjau Alias Iwan alias Abun (abang),  juga dikeluarkan dari Rumah Tahanan Polres Labuhanbatu.

Terkait dengan pemberian Restorative Justice kepada kedua tersangka bersaudara kandung itu, Ketua Etnis Tionghoa, DR. HC  Sujian alias Acan didampingi Ketua Harian Yayasan Sosial Budi Agung Ir Johny, SE Dipl Cim, mengaperesiasi keputusan Kejagung melalui JAM Pidum,  dalam rangka mesosialisasikan Peraturan Baru RJ (Restorative Justice), dengan  mengabulkan SP3 masalah pidana antara Wong Boen Tjau als Iwan alias Abun Dengan Sarwin  alias Awi.

“Saya secara pribadi mengapresiasi Kejaaksaan Negeri Labuhanbatu dan sangat bersyukur, karena dengan adanya mediasi terhadap kedua saudara kandung itu, perkaranya tidak lanjut kemeja persidangan di pengadilan neger”, Sujian.

Sekira jam 17.30 WIB, mereka telah dibebaskan dari status tahanan,  setelah dilakukan Penghentian Penuntutan oleh Kejaksaan Negeri Labuhanbatu.

Pos terkait