Tokoh Masyarakat Labuhanbatu Prihatin, Kuburan Bernilai Sejarah Terkesan Ditelantarkan

Gebraknews,co.id, Labuhanbatu – Salah seorang tokoh masyarakat Labuhanbatu, Sumatera Utara, hj Ellya Rosa Siregar S.Pd .,M.M prihatin, melihat kondisi kuburan (makam) bernilai “sejarah” berusia ratusan tahun ditengah Kota Rantauprapat, saat ini terkesan seperti diterlantarkan tanpa perawatan.

“Saya benar-benar prihatin melihat kondisi kuburan ini”, ucap Ellya Rosa Siregar politisi senior wanita Partai Golkar, yang pernah menjabat Ketua DPRD Labuhanbatu ini kepada wartawan, saat  berziarah dikuburan almarhum Patuan Bolatan Dalimunthe, Kamis (17/6/2021) pagi.

Bacaan Lainnya

Ditegaskannya, kita benar-benar prihatin dengan kondisi kuburan ini. Mengingat lokasi kuburan berjarak kurang 2 (dua) kilometer dari pusat kota, namun faktanya komplek pemakaman keluarga bekas Raja Rantauprapat itu memprihatinkan. Disana-sini terlihat semak belukar menyelimuti areal perkuburan yang fenomenal tersebut.

Jalan mendaki ke sana pun hanya sekedarnya. Beranaktanggakan tanah.

Padahal lanjut salah seorang tokoh wanita yang dekat dengan rakyat ketika duduk di lembaga legislatif ini, makam utama di belakang eks pabrik es, Kelurahan Sioldengan, Kecamatan Rantau Selatan, dan bersebelahan dengan komplek Perumahan Puri Indah Kampung Baru Rantauprapat itu, punya peran penting berdirinya kota Rantauprapat saat ini.

Patuan Bolatan, demikian terpatri nama jasad yang bersemayam dalam makam itu. Tertulis pula di nisan, dimakamkan pada tahun 1800. Makamnya bertingkat tujuh anak tangga, menandakan jika makam itu merupakan raja.

Patuan Bolatan merupakan sesepuh pendiri kota Rantauprapat saat ini. Generasi penerusnya pun kini banyak yang memiliki peran penting dalam pemerintahan. Baik level propinsi maupun di pemerintahan lokal.

“Ironis memang, areal tersebut seakan jauh dari kata terawat. Lumut menempel dan memenuhi dinding makam tersebut”, ucap Ellya Rosa Siregar.

Disaksikan sejumlah wartawan yang mendampingi si “Putri Bilah” berziarah dimakam legenda itu, Ellya pun terlihat khusuk berdoa.

Areal kuburan ini, memang terlihat lebih tinggi dari kawasan sekitar. Jadi terlihat lebih mencolok. Dan mudah ditemukan.

Memasuki komplek perkuburan itu, tampak Elya Rosa mesti hati-hati menyibak semak. Khususnya menghindari kemungkinan adanya binatang melata berbisa.

Menemukan fisik makam Patuan Bolatan bermarga Dalimunthe, Elya Rosa bersegera melakukan ritual ziarah kubur. Mengguyur makam dengan air bersih yang sejak semula dibawa. Tampak juga, bibirnya melafazkan ayat-ayat Alquran dan melantunkan doa-doa untuk bermunajat kepada Allah dalam hal memberikan kebaikan kepada arwah yang bersemayam di dalam makam.

“Kita kemari untuk ziarah kubur. Sebagai bentuk hormat generasi saat ini kepada arwah para leluhur,” katanya.

Kata dia, komplek tersebut sudah mesti dijamah. Butuh kepedulian khusus untuk merawatnya. Konon pula, makam itu menyimpan jasad tokoh yang pernah punya peran penting dalam keberadaan kota Rantauprapat saat ini.

“Kita sebagai generasi penerus, mesti menghormati jasa para pendahulu. Maka kiranya perlu dirancang cara merawat komplek itu,” papar Elya Rosa.

Pemerintah Daerah di kabupaten Labuhanbatu dan Propinsi Sumut bisa merawat dengan menjadikan komplek tersebut sebagai bahagian dari Cagar Budaya. Sebab, sudah dapat dijadikan sebagai situs bersejarah dengan usia makam lebih 200 tahun.

“Di nisan makam tertulis Patuan Bolatan meninggal di tahun 1800. Maka makam ini sudah dapat dijadikan sebagai cagar budaya,” tegasnnya.

Sementara, dari literatur yang ada menyebutkan di makam bersama dua makam istrinya itu, dahulunya adalah sosok sang pencetus perlawanan terhadap Sultan Bilah. Raja Rantauprapat yang bergelar Patuan Bolatan setelah berhasil mengerahkan rakyat untuk membelokkan alur air sungai Bilah.

Kebijakan ini menyebabkan pasokan air ke hilir Sungai Bilah mengalami pengurangan ketika itu. Wilayah kesultanan Bilah yang di hilir Sungai Bilahpun ikut merasakan dampak kekurangan pasokan air sungai.

Sikap perlawanan terhadap Kesultanan Bilah itu membuat gusar Sultan Bilah.Tak memilih banyak perlawanan, pihak Sultan justru mencari cara melakukan perdamaian.

Memperjodohkan putrinya ke cucu Raja Patuan Bolatan. Kesultanan Bilah  menjodohkan putri Tengku Maharani untuk dipersunting Mangaraja Lela Setia Muda. Dan, islahnya kedua kekuatan ini menghasilkan kesepakatan menjadikan Mangaraja Lela Setia Muda sebagai penguasa dan raja. Api kemarahan Patuan Bolatan, akhirnya padam. (Yas/CR27)

Pos terkait