Gebraknews.co.id, Kepri – Inflasi Provinsi Kepulauan Riau sepanjang 2018 tercatat 3,47 persen. Angka ini lebih rendah dibanding rata-rata historis tiga tahun terakhir sebesar 3,98 persen. Serta lebih rendah dari inflasi Kepri 2017, sebesar 4,02 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (BI Kepri), Gusti Raizal Eka Putra mengatakan inflasi Kepri dipicu oleh berbagai faktor. Seperti transportasi, komunikasi dan jasa keuangan, makanan jadi, rokok dan tembakau, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar.

“Kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami inflasi 4,01 persen dengan andil 0,84 persen. Dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah tarif angkutan udara,” kata Gusti dalam siaran pers, pekan lalu.

Sementara kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mencatatkan inflasi sebesar 5,11 persen dengan andil 0,80 persen. Inflasi kelompok ini didorong oleh peningkatan harga rokok putih.

Adapun kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar tercatat mengalami inflasi 2,04 persen dengan andil sebesar 0,51 persen. Utamanya didorong oleh peningkatan tarif listrik.

“Inflasi pada kelompok bahan makanan sebesar  3,42 persen dengan andil 0,76 persen. Utamanya disumbang oleh meningkatnya harga beras,” paparnya.

Berdasarkan komoditasnya, sumbangan terbesar inflasi Kepri 2018 didorong oleh peningkatan harga komoditas tarif angkutan udara, tarif listrik, dan beras. Tarif angkutan udara mengalami inflasi 15,34 persen dengan andil 0,62 persen. Sementara tarif listrik inflasi 6,49 persen dan komoditas beras catatkan inflasi 7,67 persen.* (MCB)